Dia menambahkan, pengembangan industri baterai merupakan isu strategis karena berperan dalam mendukung stabilitas sistem energi, dekarbonisasi sektor industri, dan percepatan pengembangan kendaraan listrik.
“Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global melalui cadangan nikel yang mencapai lebih dari 40 persen cadangan dunia," katamya.
"Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pengembangan industri baterai berbasis nikel, serta proses penambangan hingga manufaktur perlu dikelola secara bertanggung jawab agar berkelanjutan,” tambahnya.
Research Coordinator PYC, Massita Ayu Cindy Putriastuti, dan Analyst CWC, Dinda Ayu Maharani, menjelaskan bahwa sebagian besar kendaraan listrik di Indonesia saat ini menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang tidak memerlukan nikel.
Kondisi tersebut membuat manfaat hilirisasi nikel terhadap industri baterai domestik masih relatif terbatas.
Di sisi lain, kapasitas produksi baterai Indonesia juga dinilai masih jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas produksi global.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.