JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh 5,2-5,3 persen pada kuartal II-2026. Kondisi tersebut ditopang oleh belanja pemerintah yang ikut meningkat.
Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, menjelaskan bahwa meskipun terdapat inflasi akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi, dorongan belanja pemerintah masih tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan (year on year/yoy). Hal tersebut menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi.
"Jadi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,2-5,3 persen pada kuartal II," ujarnya.
Selain itu, kenaikan harga komoditas seperti batu bara pada Mei 2026 turut mendukung perekonomian karena berdampak positif terhadap konsumsi masyarakat.
"Kita sempat melihat harga batu bara pada Mei relatif naik. Ini menjadi faktor pendukung karena ketika komoditas baik, konsumsi masyarakat relatif baik di tengah adanya pelemahan nilai tukar dan penurunan PMI," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan II akan ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat. Sejumlah indikator seperti peningkatan konsumsi rumah tangga hingga realisasi investasi dinilai mampu mempercepat akselerasi perekonomian.
Airlangga menitikberatkan sejumlah faktor, mulai dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, hingga tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Sejalan dengan itu, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi sebesar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen," tutur Airlangga.
Dia juga menjelaskan bahwa sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi dengan indeks 50,1, diikuti oleh posisi cadangan devisa yang tetap kuat sebesar USD148,2 miliar.
Sektor perbankan juga turut menjadi perhatian, seiring kondisi yang tetap solid dengan rasio permodalan kuat dan risiko kredit yang terkendali. Risiko tersebut dapat ditekan melalui penerapan prinsip kehati-hatian dalam pemberian pinjaman.
Tak hanya itu, sektor sumber daya alam turut memperbesar margin pertumbuhan. Kenaikan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai USD47 miliar turut memberikan natural hedging terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas.
Dari sisi fiskal, APBN terus berfungsi sebagai bantalan ekonomi melalui penyaluran bantuan pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, dan kompensasi senilai sekitar Rp11,92 triliun. Selain itu, defisit APBN tetap terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.
"Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia pada 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia," ujar Airlangga.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.