Namun, impor nonmigas secara keseluruhan diprediksi tetap tinggi akibat kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan serta lonjakan pasokan dari negara mitra.
"Selain itu, data perdagangan Tiongkok menunjukkan bahwa ekspornya ke Indonesia meningkat secara signifikan pada Juni 2026, yang mencerminkan permintaan impor yang tetap berkelanjutan dari Indonesia," ungkapnya.
Faisal menambahkan, risiko penurunan kinerja perdagangan ke depan turut dipengaruhi oleh normalisasi ekspor setelah lonjakan pengiriman tahun lalu (front-loading), melemahnya permintaan Tiongkok, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang.
"Meskipun perdagangan semikonduktor dan chip terkait AI global terus berkembang sehingga mendukung perdagangan global secara keseluruhan, integrasi Indonesia yang masih terbatas ke dalam rantai pasokan bernilai tinggi tersebut menunjukkan hanya sedikit manfaat langsung bagi ekspornya," jelasnya.
Seiring dinamika ekspor dan impor tersebut, Faisal memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia akan melebar pada 2026.
CAD diproyeksikan berada di kisaran 1,0 persen hingga 2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025 yang tercatat sebesar 0,11 persen dari PDB.