JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai prospek dan minat penghimpunan dana atau fundraising oleh korporasi di pasar modal Indonesia tetap positif hingga akhir Juli 2026. Kinerja ini didorong oleh kuatnya penerbitan instrumen surat utang serta pemulihan pergerakan harga saham dan reksa dana domestik.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan bahwa capaian tersebut menegaskan peran vital pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi pertumbuhan dunia usaha.
"Saya dapat sampaikan bahwa per 31 Juli 2026, nilai penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp113,13 triliun secara year-to-date. Ini menunjukkan terjaganya minat fundraising di pasar modal Indonesia, terutama melalui penerbitan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) senilai Rp98,27 triliun," kata Friderica dalam jumpa pers agenda Koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Prospek fundraising yang dinilai solid tersebut, kata dia, didorong oleh pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta ketahanan industri pengelolaan investasi.
Setelah sempat mengalami tekanan pada triwulan sebelumnya akibat gejolak global, pergerakan indikator pasar modal nasional berbalik menuju zona positif.