Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kecelakaan Kapal Jadi Sorotan, Menhub Ungkap Kronologi dan Evaluasinya

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Kamis, 20 Agustus 2026 |12:47 WIB
Kecelakaan Kapal Jadi Sorotan, Menhub Ungkap Kronologi dan Evaluasinya
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan kronologi empat kecelakaan kapal yang menjadi perhatian pemerintah dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan kronologi empat kecelakaan kapal yang menjadi perhatian pemerintah dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI. Keempat insiden tersebut yakni kebakaran KM Mutiara Sentosa 2, kebakaran KMP Putri Yasmin, tenggelamnya KLM Nurulsalsa 01, serta insiden KM Prince Soya.

Dudy menegaskan, kronologi yang disampaikan masih berupa indikasi awal. Adapun penyebab definitif masing-masing kecelakaan masih menunggu hasil investigasi yang dilakukan sesuai ketentuan.

Untuk KM Mutiara Sentosa 2, Dudy mengatakan kapal penumpang Ro-Ro tersebut berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, pada 1 Agustus 2026 sekitar pukul 20.00 WIB.

Kemudian pada 2 Agustus 2026 pukul 06.30 WIB, masinis 2 dan kadet melihat asap hitam pekat dari car deck sisi tengah kiri kapal. Berdasarkan laporan awal, asap tersebut berasal dari kendaraan truk besar.

Upaya pemadaman kemudian dilakukan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dan sprinkler. Sementara itu, penumpang diarahkan untuk menggunakan life jacket dan berkumpul di anjungan serta haluan kapal.

Pada pukul 09.00 WIB, nakhoda meminta pertolongan kepada kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi. Kondisi kemudian semakin berbahaya sehingga pada pukul 09.30 WIB nakhoda memerintahkan abandon ship atau meninggalkan kapal.

"Evakuasi kemudian dilakukan menuju kapal-kapal yang datang memberikan pertolongan dengan pendampingan awak kapal," kata Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Rabu (19/8/2026).

Dalam insiden tersebut, KM Mutiara Sentosa 2 membawa 238 orang yang terdiri atas penumpang dan kru. Sebanyak 233 orang selamat, sementara lima orang meninggal dunia.

KMP Putri Yasmin

Selanjutnya, KMP Putri Yasmin mengalami kebakaran pada 12 Agustus 2026. Kapal tersebut melayani rute Pelabuhan Padangbai, Karangasem, menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat.

Dudy menjelaskan, kapal berangkat dari Padangbai sekitar pukul 02.00 WITA. Sekitar pukul 03.45 WITA, masinis jaga melihat asap di car deck dan melaporkannya kepada mualim jaga. Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada nakhoda.

Upaya pemadaman dilakukan menggunakan sprinkler manual. Namun, api tidak berhasil dipadamkan sehingga nakhoda menginstruksikan penumpang menggunakan alat keselamatan dan menuju master station. Berita darurat juga disiarkan.

Pada pukul 04.40 WITA, kemudi dilaporkan tidak berfungsi. Pada saat bersamaan, kobaran api mulai mencapai titik kumpul. Kondisi panas juga menyebabkan sekoci tidak dapat diturunkan.

"Akhirnya, 12 inflatable life raft dilepaskan dan proses penyelamatan penumpang dilakukan," ujar Dudy.

KMP Putri Yasmin membawa 212 orang. Sebanyak 211 penumpang dan kru selamat, sementara satu penumpang meninggal dunia. Dudy juga menyebut terdapat laporan masyarakat mengenai empat orang yang masih dalam pencarian. Laporan tersebut selanjutnya diverifikasi melalui proses pencarian dan pendataan.

KLM Nurulsalsa 01

Berbeda dengan dua kasus sebelumnya, KLM Nurulsalsa 01 mengalami kecelakaan berupa tenggelam. Kapal penumpang tradisional tersebut melayani rute Pelabuhan Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar di wilayah Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Pada 15 Juli 2026 pukul 06.00 WITA, KLM Nurulsalsa 01 berangkat dari Jampea menuju Benteng Selayar.

Sekitar pukul 11.25 WITA, Unit Penyelenggara Pelabuhan Jampea menerima informasi bahwa kapal mengalami mati mesin dan terombang-ambing sekitar empat mil laut di selatan Pulau Polassi.

Koordinasi kemudian dilakukan dengan sejumlah pemangku kepentingan dan berita mengenai kondisi kapal dipancarkan. Pada pukul 13.36 WITA, sebagian penumpang berhasil dievakuasi oleh kapal nelayan. Namun, proses pertolongan menghadapi kendala akibat kondisi cuaca.

Pada pukul 17.33 hingga 19.55 WITA, bantuan kemudian melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, pemerintah daerah, sejumlah kapal, dan KRI.

Pada pukul 22.00 WITA, KLM Harapan Kita berhasil menemukan korban berdasarkan sinar cahaya. Para korban ditemukan berkelompok dengan menggunakan life jacket dan life raft.

Operasi pencarian kemudian terus dilakukan pada 16 hingga 17 Juli dan dilanjutkan secara intensif oleh tim SAR gabungan. Pada 21 hingga 23 Juli 2026, ditemukan tambahan penumpang yang selamat maupun meninggal dunia.

Dalam pemaparan tersebut, Dudy menyebut KLM Nurulsalsa 01 membawa 76 orang. Sebanyak 56 penumpang dan kru selamat, empat orang meninggal dunia, dan 14 orang belum ditemukan.

Kejadian tersebut menjadi evaluasi serius terhadap pengawasan kapal tradisional, manifes, kapasitas angkut, kesiapan alat keselamatan, serta pengawasan keberangkatan kapal.

KM Prince Soya

Sementara itu, insiden KM Prince Soya terjadi ketika kapal sedang bersandar di pelabuhan umum Samarinda. Kapal milik PT Bunga Teratai tersebut membawa 37 orang kru dan seluruhnya berhasil selamat. Kejadian ini dikategorikan sebagai kecelakaan kerja.

Dudy menjelaskan, pada 1 Agustus 2026 pukul 08.00 WITA dilakukan kegiatan maintenance pada railing kapal yang melibatkan tim las dari galangan.

Sekitar pukul 10.00 WITA, dilakukan pelepasan tangki ekspansi atau alat pemanas udara yang sudah lama tidak digunakan. Setelah dilepas, terlihat cairan keluar dari alat tersebut.

Sekitar pukul 10.50 WITA, pekerja melakukan pengelasan dudukan life raft di area yang tidak jauh dari alat tersebut. Saat pekerjaan berlangsung, api menyambar cairan dan kemudian menjalar.

Anak buah kapal (ABK) segera melakukan pemadaman dengan dukungan mobil pemadam dari KSOP dan instansi terkait.

Menurut Dudy, insiden tersebut menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan hot work permit, identifikasi material berbahaya, fire watch, serta pengawasan pekerjaan maintenance di atas kapal.

Kemenhub Perketat Pengawasan

Dari rangkaian empat insiden tersebut, Kementerian Perhubungan melakukan sejumlah langkah penanganan dan evaluasi, termasuk audit tambahan terhadap sistem manajemen keselamatan, pemeriksaan kelaiklautan oleh Marine Inspector, serta tindakan perbaikan terhadap operator dan armada.

Dudy menegaskan setiap temuan yang berkaitan langsung dengan keselamatan tidak boleh dikompromikan. Apabila ditemukan ketidaksesuaian, pemerintah dapat melakukan pembatasan operasi hingga pelarangan berlayar.

"Pada akhirnya keselamatan tidak boleh hanya menjadi perhatian setelah kejadian terjadi. Harus dipastikan sejak sebelum kapal berangkat, selama kapal berlayar, hingga seluruh penumpang tiba dengan selamat di tujuan," kata Dudy.

Ia menambahkan, prinsip yang harus diterapkan dalam keselamatan pelayaran adalah lebih baik kapal tidak berangkat apabila persyaratan keselamatan belum terpenuhi.

"Dalam keselamatan, satu jiwa pun sudah terlalu banyak," ujar Dudy.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement