Dari dalam negeri, pergerakan mata uang domestik dibayangi oleh pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuartal II-2026 yang dirilis Bank Indonesia sebesar 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen terhadap PDB, naik dari kuartal sebelumnya yang sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0 persen PDB).
“Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi,” jelasnya.
Ibrahim menambahkan, kenaikan defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya impor dan harga minyak dunia, ditambah risiko inflasi pangan imbas kekeringan El Nino, menjadi kewaspadaan tambahan bagi pelaku pasar.
Mempertimbangkan kalkulasi sentimen global dan domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan kurs rupiah pada pekan depan akan berada dalam rentang kisaran Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.