JAKARTA - Bitcoin (BTC) kembali naik, setelah bergerak di kisaran USD64.000 pada 17 Agustus, kini Bitcoin kemudian menembus USD80.000 pada 25 Agustus.
Pergerakan ini didukung oleh perubahan sentimen makro global menyusul kebijakan treasury buyback Amerika Serikat, serta meningkatnya arus dana ke Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin yang mencerminkan kembali menguatnya permintaan di pasar kripto.
Kenaikan Bitcoin kali ini dinilai tidak hanya mencerminkan pergerakan harga jangka pendek, tetapi juga perubahan sentimen yang terlihat dari sejumlah indikator pasar.
"Momentum Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan," kata Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Dia menambahkan, penguatan harga berjalan bersamaan dengan meningkatnya permintaan melalui ETF spot Bitcoin dan membaiknya kondisi pasar.
"Namun, kenaikan yang berlangsung cepat tetap perlu diimbangi dengan disiplin dalam mengelola risiko, terutama bagi investor yang baru kembali melihat peluang di pasar,” ujar Aloysia.
Salah satu faktor makro yang menjadi perhatian pasar adalah kebijakan treasury buyback (pembelian kembali sebagian surat utang) Amerika Serikat. Kebijakan ini bagian dari upaya treasury untuk menjaga likuiditas dan mendukung kelancaran perdagangan.
Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang, yang sempat menekan yield dan mendorong kembali minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Dari sisi permintaan, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat kembali mencatat arus dana positif. Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin spot mencatat net inflow dalam periode 17-25 Agustus 2026, dengan total arus dana mencapai sekitar USD2,57 miliar.
Pada saat yang sama, Crypto Quant mencatat Bull Score Bitcoin meningkat dari 30 menjadi 80 dalam sepekan. Hal ini
mencerminkan tingginya optimisme dan selera risiko pelaku pasar.