JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons yang sangat positif dari masyarakat. Hal tersebut tecermin dari tingginya jumlah permohonan dari berbagai sekolah yang mengajukan diri agar dapat menerima penyaluran program tersebut.
Merespons pertanyaan awak media mengenai detail data 80 sekolah swasta elit yang dihentikan dari daftar penerima MBG, Purbaya mengaku belum menerima rincian data tersebut secara spesifik dari BGN. Namun, ia menggarisbawahi bahwa antusiasme sekolah yang meminta penyaluran MBG bergerak cukup masif.
"Gatau saya dia ga bilang sekolah elit. Tapi begini, saya tanya-tanya aja ada nggak sekolah yang minta? Pokoknya banyak yang minta. Dan itu cukup masif yang minta," ujar Purbaya.
Melihat besarnya animo dari lapangan, Purbaya menyarankan pihak BGN untuk menyampaikan data permintaan tersebut secara terbuka kepada masyarakat guna menunjukkan manfaat nyata program MBG.
"Artinya, program MBG ini sebagian masyarakat menurut saya amat baik. Dari sekolah-sekolahnya yang masih banyak minta itu. Saya bilang, kalau itu Anda (Sudaryono) umumkanlah ke publik, berapa yang sekolah yang minta itu. Sehingga orang tahu bahwa memang sebagian masyarakat menyukai program ini. Kalau nggak bilang semuanya ya, sebagian besar," tegas Purbaya.
Sebelumnya, langkah penajaman sasaran anggaran yang tengah dieksekusi oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala BGN Sudaryono mengonfirmasi bahwa pemerintah mulai mengecualikan sekolah-sekolah swasta terkemuka yang dinilai mampu secara finansial.
Dari hasil penyisiran di berbagai daerah, BGN resmi mengeluarkan sekitar 80 sekolah swasta kategori elit dari daftar alokasi penerima bantuan program MBG.
"Kita sudah sisir beberapa sekolah swasta yang memang swasta elit, yang saya kira tidak membutuhkan MBG. Itu juga beberapa sudah ada 80-an sekolah se-Indonesia, yang kemudian sekolah swasta khususnya itu kita exclude untuk tidak mendapatkan MBG," kata Sudaryono, Jumat (28/8/2026).
Selain sekolah swasta elit, BGN juga mencoret sekolah berasrama (boarding school) dan pondok pesantren yang telah memiliki sistem penyediaan asupan gizi mandiri bagi para siswanya.
"Termasuk sekolah-sekolah berasrama. Ada banyak nih, seperti sekolah saya dulu sama Taruna Nusantara, tidak kemudian mendapatkan MBG, karena itu sudah menjadi bagian dari kegiatan mereka sendiri-sendiri," ujar Sudaryono.
Masyarakat juga dapat memantau langsung status transparansi alokasi penerima MBG melalui platform digital pemerintah.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.