Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Level Rp17.611 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 11 September 2026 |15:50 WIB
Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Level Rp17.611 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

Hari ini fokus pasar akan tertuju pada Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang akan dirilis malam ini pukul 19.30 WIB. IHK bulan Agustus diperkirakan naik dari 0,1% menjadi 0,4% secara bulanan (MoM), sementara angka tahunan (YoY) untuk periode 12 bulan terakhir diprediksi tetap stabil di level 3,4%. IHK Inti diperkirakan bertahan di angka 0,2% secara bulanan dan turun dari 2,5% menjadi 2,4% secara tahunan.

Dari sentimen dalam negeri, harga minyak mentah dunia melampaui 100 dolar AS per barel, posisi Indonesia sebagai importir neto minyak memang menjadi tantangan berat bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional. Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat.

Kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi Makro APBN (ICP/Indonesian Crude Price) secara otomatis menaikkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi BBM (seperti Pertalite dan Solar serta LPG 3 Kg) sehingga akan terjadi risiko defisit, apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran.

Sebagai importir neto, Indonesia harus mengimpor minyak dalam jumlah besar menggunakan dolar AS. Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam sehingga terjadi pelebaran transaksi berjalan dan tingginya permintaan terhadap mata uang asing ini dapat menekan nilai tukar Rupiah, yang pada gilirannya bisa memicu imported inflation (inflasi barang impor) untuk komoditas lainnya.

Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter, ini yang membuat batu sandungan tersendiri. Anggaran fiskal (APBN) jebol karena beban subsidi yang tidak rasional dan pemerintah mempertahankan subsidi BBM. Kalau menaikkan Harga BBM, akan memicu inflasi tinggi, menurunkan daya beli masyarakat, dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Meskipun Indonesia di sisi lain diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas ekspor lain (seperti batu bara atau kelapa sawit/CPO) yang sering kali ikut terkerek naik saat krisis energi (windfall revenue), keuntungan tersebut sering kali tidak cukup untuk sepenuhnya menutup kerugian akibat membengkaknya biaya impor minyak mentah.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.610-Rp17.650 per dolar AS. Sedangkan untuk sepekan depan di kisadan Rp17.500-Rp.17.850 per dar AS.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement