Purbaya tidak puas dengan target resmi pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar sekitar 5,4%.
Ia secara terbuka memasang target ekonomi Indonesia mendekati 6%, bahkan mengatakan dirinya siap bertanggung jawab jika target tersebut gagal dicapai.
Ini menjadi semacam "kontrak politik-ekonomi" Purbaya dengan publik.
Ia bahkan pernah mengatakan bahwa jika dalam waktu enam bulan ekonomi tidak bergerak ke arah yang benar, publik boleh mengkritiknya.
Purbaya datang dengan target tinggi: 6% atau mundur.
Purbaya berulang kali mengatakan kebijakan fiskalnya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan, bukan sekadar menjaga defisit dan stabilitas fiskal.
Kementerian Keuangan pada Februari 2026 bahkan menyebut kebijakan fiskal pro-growth yang ditempuh sejak paruh kedua 2025 berhasil membalikkan arah perekonomian.
Pendekatan ini menjadi salah satu perbedaan paling mencolok dibanding era Sri Mulyani yang dikenal lebih menekankan kehati-hatian fiskal.
Purbaya tidak hanya menempatkan dana pemerintah di bank.
Pada 2026, ia juga mendorong lembaga-lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang memiliki dana besar untuk menempatkan dana dengan tingkat bunga lebih rendah.
Targetnya adalah menurunkan cost of fund bank, sehingga bank memiliki ruang lebih besar untuk memberikan kredit dengan bunga yang lebih murah.