Konsep serupa juga akan diterapkan dalam pengembangan Bioethanol Development Center di Tegineneng. Fasilitas yang dikembangkan melalui kerja sama PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) tersebut menggunakan konsep multi-feedstock.
Sumber bahan baku yang disiapkan antara lain molases, sorgum dan limbah biomassa. Diversifikasi bahan baku tersebut diharapkan dapat memberikan fleksibilitas sekaligus memperkuat kepastian pasokan bagi industri.
Todotua menyatakan kepastian bahan baku menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan industri bioetanol. Pasalnya, pengembangan kapasitas produksi tidak akan optimal apabila tidak diikuti dengan ketersediaan bahan baku yang memadai.
"Petani membutuhkan pasar yang jelas, industri membutuhkan pasokan bahan baku yang cukup, sementara investor membutuhkan kepastian bahwa ekosistem industri dapat berjalan dalam jangka panjang," ujarnya.
Pada tahap awal, Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan dengan kapasitas 60 kiloliter. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai menghasilkan bioetanol paling lambat pada Desember 2026 untuk mengukur keekonomian produksinya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.