Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Kekayaan Bumi Tak Lagi Pergi sebagai Bahan Mentah

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Minggu, 20 September 2026 |14:30 WIB
Ketika Kekayaan Bumi Tak Lagi Pergi sebagai Bahan Mentah
Ketika Kekayaan Bumi Tak Lagi Pergi sebagai Bahan Mentah (Foto: MIND ID)
A
A
A

Ketika Mineral Berhenti Menjadi Komoditas

Setelah sumber daya ditemukan dan proses produksinya semakin efisien, tantangan berikutnya adalah memastikan mineral tidak berhenti sebagai komoditas.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Hatta Ridho mengatakan, Indonesia perlu melihat sumber daya mineral bukan sekadar sesuatu yang digali dan dikirim ke pasar.

"Selama ini kita sering hanya berpikir bahwa Indonesia memproduksi, menggali, kemudian mengirimkan hasilnya. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana melakukan hilirisasi dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri," kata Hatta.

Hilirisasi membuat mineral strategis memperoleh nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan sekaligus membuka aktivitas ekonomi baru melalui industri pengolahan dan industri turunannya.

Pandangan serupa disampaikan Akademisi Universitas Hasanuddin Suhasman. Menurut dia, pengembangan industri pengolahan menjadi bagian penting agar komoditas mineral menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi sebelum dipasarkan.

"Hilirisasi juga membuka ruang bagi terbentuknya keterkaitan antara sektor pertambangan dengan industri pengolahan dan manufaktur sehingga manfaat sumber daya mineral dapat menjangkau kegiatan ekonomi yang lebih luas," ujarnya.

Dengan kata lain, nilai sebuah mineral tidak seharusnya berhenti ketika komoditas keluar dari wilayah tambang.

Nilainya justru dapat terus tumbuh ketika mineral menjadi bahan baku industri, masuk ke rantai manufaktur, menciptakan lapangan kerja, melahirkan teknologi, dan menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat.

Hilirisasi, dengan demikian, bukan sekadar proses mengolah mineral. Ia adalah upaya memperpanjang perjalanan nilai sebelum kekayaan bumi meninggalkan negeri.

Dari Cadangan Mineral Menuju Industri

MIND ID mengarahkan pengelolaan mineral nasional agar tidak lagi bertumpu pada ekstraksi dan penjualan komoditas, tetapi berkembang menjadi basis industrialisasi.

Division Head of Institutional Relations MIND ID Selly Adriatika mengatakan, pemerintah menugaskan MIND ID untuk memastikan kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses ekstraksi.

"Sumber daya alam tersebut harus menjadi fondasi industrialisasi yang mampu memperkuat struktur ekonomi nasional dan meningkatkan kedaulatan ekonomi Indonesia," kata Selly.

Indonesia memiliki sekitar 42 persen cadangan nikel dunia berdasarkan data Badan Geologi. Indonesia juga memiliki posisi strategis dalam cadangan sejumlah komoditas lainnya, antara lain timah, bauksit, emas, tembaga dan batu bara.

Namun, besarnya cadangan tidak otomatis menghasilkan manfaat ekonomi yang optimal. Apabila mineral hanya dijual sebagai komoditas, rantai nilai akan berhenti lebih cepat dan manfaat ekonomi dari proses lanjutan dapat tercipta di tempat lain.

Sebaliknya, ketika pengolahan, pemurnian hingga industri turunannya dikembangkan di dalam negeri, perjalanan mineral menjadi lebih panjang dan bersama itu, nilai ekonominya pun dapat semakin besar.

Karena itulah MIND ID melalui Antam, Bukit Asam, Inalum dan Timah, menjalankan kegiatan usaha pada berbagai mata rantai industri mineral. Tujuannya bukan semata mengelola sumber daya, tetapi menghubungkan kekayaan dari berbagai wilayah Indonesia dengan kebutuhan industri nasional.

Bumi menyediakan bahan baku. Industri mengubahnya menjadi nilai tambah. Negara dan masyarakat menerima manfaat dari rantai yang semakin panjang itu.

Hilirisasi Logam Tanah Jarang

Perjalanan hilirisasi bahkan mulai memasuki wilayah yang sebelumnya belum banyak dibicarakan. MIND ID memperluas pengembangan hilirisasi bauksit dengan mengembangkan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE).

Potensinya dapat ditemukan pada mineral alami maupun sumber nonkonvensional, termasuk residu bauksit, terak nikel dan produk samping pengolahan timah.

"Jika Indonesia mampu memisahkan LTJ dari mineral ikutannya secara ekonomis dan efisien, sesungguhnya Indonesia sudah menjadi negara pengolah LTJ," kata Dany.

Potensi tersebut penting karena rare earth elements dibutuhkan berbagai industri masa depan, mulai dari kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik hingga manufaktur berteknologi tinggi.

MIND ID bersama Badan Industri Mineral dan didukung BRIN tengah menyusun peta jalan teknologi pengolahan dan pemurnian LTJ nasional, termasuk pemetaan sumber bahan baku dan teknologi yang dibutuhkan.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi bukan hanya tentang mengolah komoditas yang sudah dikenal. Hilirisasi juga berarti menemukan nilai baru dari setiap tahapan pengolahan mineral.

Bahkan produk samping yang sebelumnya dipandang kurang bernilai dapat menjadi sumber pertumbuhan baru ketika teknologi dan pengetahuan memungkinkan pengolahannya.

Cerita serupa terjadi pada emas. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mendorong penguatan hilirisasi emas agar pemanfaatannya tidak hanya berorientasi pada perhiasan dan investasi, tetapi juga berkembang sebagai bahan baku industri bernilai tambah tinggi.

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Heldy Satrya Putera mengatakan emas memiliki potensi mendukung pengembangan industri manufaktur, termasuk elektronik dan semikonduktor.

Selama ini pemanfaatan emas di Indonesia masih banyak berfokus pada perhiasan dan investasi. Padahal, logam tersebut juga memiliki peran dalam industri teknologi.

"Sebetulnya kita menggunakan atau memanfaatkan emas, mengolah emas itu baru untuk satu, perhiasan. Yang kedua kita mengolahnya hanya untuk kebutuhan investasi karena kita mau simpan emas itu. Kita bikin juga bullion di Indonesia, itu dalam rangka juga di banyak negara lain dipakai untuk cadangan dan sebagainya," ujarnya. 

Bagi MIND ID, emas juga memiliki dimensi strategis terhadap perekonomian nasional. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan produksi emas dalam negeri berpotensi mendukung penguatan cadangan devisa negara sesuai dengan kebijakan dan ketentuan Bank Indonesia.

"Emas merupakan produksi dalam negeri yang berpotensi menjadi sumber aset strategis yang dapat mendukung penguatan cadangan devisa negara," ujar Maroef.

Satu mineral, dengan demikian, dapat memiliki banyak jalan menuju kedaulatan: menjadi bahan baku industri, menjadi sumber nilai tambah, sekaligus menjadi aset strategis perekonomian.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement