JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,51 persen ke level 6.147 pada perdagangan hari ini, Senin (28/9/2026). IHSG mengalami tekanan tepat pada hari pertama penerapan penghapusan harga saham minimum Rp50 menjadi Rp1.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, pelemahan tersebut merupakan volatilitas jangka pendek karena saham kembali mencari harga wajar pasca harga minimum saham Rp50 dihapus.
"Karena saham-saham yang ada di harga Rp50 itu, ada yang sudah bertahun-tahun di harga Rp50 tanpa ada transaksi. Ya mungkin memang fair value-nya tidak di Rp50, dan saat ini sedang mencari fair value-nya," ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Jeffrey menambahkan, fenomena penyesuaian harga untuk mendapatkan harga ideal itu memang membutuhkan waktu. Sebab masih ada ketentuan batas Auto Rejection Bawah (ARB) yaitu 15 persen per hari. Ditambah terdapat antrean jual yang panjang di beberapa saham Rp50 sebelumnya.
"Tentu membutuhkan waktu, karena ada proses auto rejection di situ ya, sampai nanti menemukan titik fair value-nya," lanjutnya.
Meski demikian, Jeffrey memproyeksikan volatilitas harga saham di bawah Rp50 tidak berdampak dalam terhadap kinerja IHSG. Sebab proporsional saham Rp50 tidak terlalu besar di pasar modal secara keseluruhan.
Dia menjelaskan, pada hari ini terpantau ada 69 emiten yang telah diperdagangkan di bawah harga Rp50. Sejalan dengan hal tersebut, hingga penutupan perdagangan ada 192 emiten mengalami penguatan, 554 emiten tertekan dan 217 emiten yang stagnan.
"Tentu bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga 50, itu bobotnya terhadap IHSG juga tidak besar. Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp50, memberikan pressure kepada IHSG," pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.