Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemanfaatan Biomassa Desa Didorong Perkuat Ekosistem Cofiring

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Rabu, 30 September 2026 |20:06 WIB
Pemanfaatan Biomassa Desa Didorong Perkuat Ekosistem Cofiring
Pemanfaatan Biomassa Desa Didorong Perkuat Ekosistem Cofiring (Foto: PLN EPI)
A
A
A

JAKARTA - Penguatan ekosistem biomassa berbasis desa didorong melalui biomassa dari desa (Biodes). Biodes dikembangkan untuk mengoptimalkan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan serta tanaman energi yang dibudidayakan pada lahan kering atau marjinal. 

Melalui pendekatan tersebut, desa tidak hanya ditempatkan sebagai sumber bahan baku, tetapi menjadi bagian dari ekosistem produksi dan rantai pasok biomassa yang melibatkan petani, BUMDes, pemasok, hingga pembangkit.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan, Biodes menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun ekosistem biomassa yang berkelanjutan dengan mengoptimalkan potensi sumber daya di tingkat desa.

"Dengan mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, serta rantai pasok yang terkelola, kami berupaya menghadirkan pasokan biomassa yang berkualitas dan berkelanjutan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung transisi energi Indonesia,” ujar Mamit dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Pengembangan Biodes menjadi salah satu pendekatan PLN EPI dalam menjawab tantangan peningkatan kebutuhan biomassa untuk program cofiring.

Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2022 yang digunakan dalam pengembangan Biodes, ketersediaan biomassa berbasis limbah siap pakai memiliki keterbatasan dari sisi volume dan keberlanjutan pasokan. Potensinya diperkirakan mencapai titik jenuh pada sekitar 2,4 juta ton, sementara masih terdapat kesenjangan pasokan sekitar 7,6 juta ton untuk memenuhi target cofiring dalam RUPTL 2025–2034.

Melalui Biodes, PLN EPI mengembangkan enam pendekatan utama yakni optimalisasi potensi biomassa desa, penanaman tanaman energi dengan pola tumpang sari, pengembangan rantai pasok berbasis spoke-hub, peningkatan kualitas dan kuantitas biomassa; digitalisasi berbasis marketplace, serta integrasi desa dengan industri. Pendekatan ini diarahkan untuk membangun rantai pasok yang lebih efisien sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam ekosistem biomassa.

Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI sekaligus perwakilan tim Biodes Khalda Az Zahra menjelaskan bahwa inovasi tersebut tidak hanya mengandalkan biomassa dari limbah, tetapi juga mendorong pengembangan tanaman energi secara produktif dan terintegrasi dengan komoditas pangan.

"Kami ingin mengoptimalkan potensi biomassa yang ada di desa sekaligus membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi. Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, Biodes juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan, sehingga aspek keberlanjutan pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa,” ujar Khalda.

Implementasi awal Biodes dikembangkan di Kabupaten Cilacap sejak 2023 melalui pemanfaatan 106 hektare lahan. Program dilaksanakan secara bertahap mulai dari survei dan sosialisasi, penerapan sistem pertanian terpadu, panen dan pengumpulan hasil pada SUB-HUB, produksi biomassa melalui BUMDes, hingga pengiriman biomassa ke PLTU Adipala. Ekosistem tersebut selanjutnya diperkuat melalui digitalisasi untuk mengintegrasikan rantai pasok biomassa.

Melalui model Sub-Hub dan Hub, biomassa dari sejumlah sumber di tingkat desa dapat dikumpulkan, diolah, dan dikonsolidasikan sebelum disalurkan ke pembangkit. Model ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik sekaligus menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan biomassa.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement