Melalui forum tersebut, AESI mendorong para pemangku kepentingan di kawasan untuk menyelaraskan kebijakan. Perizinan yang adaptif dan penggabungan sejumlah proyek menjadi portofolio investasi dinilai dapat meningkatkan daya tarik sektor energi terbarukan bagi investor global.
Direktur Eksekutif Earth Sherpa Hirotaka Koike turut menyoroti pentingnya memahami tantangan operasional di tingkat lokal. Menurut dia, keberhasilan proyek energi berbasis komunitas tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan makro.
"Tantangan operasional di lapangan seringkali luput dari diskusi kebijakan makro. Kunci keberhasilan proyek skala komunitas terletak pada pembangunan ekosistem lokal yang mendukung, serta sinyal politik nasional yang kuat untuk mewujudkan visi sistem energi tersebut," kata Hirotaka.
Sementara itu, Deputy Program Director New Energy Nexus Zhou Yu mengatakan, elektrifikasi berbasis komunitas dapat menggabungkan potensi PLTS atap yang tersebar menjadi portofolio proyek yang lebih menarik bagi investor.
Model tersebut juga dinilai mampu menyediakan akses energi bersih yang andal dan terjangkau bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan, terutama ketika perluasan jaringan listrik konvensional kurang ekonomis.
Selain pengembangan pembangkit terdistribusi, forum tersebut membahas kebutuhan pendanaan dan kesiapan infrastruktur penyimpanan energi.
Senior Manager Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Luthfyana Kartika Larasati menilai, proyek energi terbarukan berskala kecil membutuhkan skema pembiayaan yang mampu menekan risiko awal dan biaya pengembangan.
"Aset energi terbarukan terdistribusi sering kali berskala kecil dengan biaya pengembangan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, modal konsesional harus ditargetkan spesifik untuk memitigasi risiko awal dan merangkum aset-aset kecil ini menjadi satu portofolio terpadu," ujar Luthfyana.
Dia menjelaskan, pendekatan tersebut dapat menggabungkan proyek-proyek kecil menjadi portofolio dengan skala investasi yang memadai sehingga lebih menarik bagi investor institusional.
Dari sisi teknis, Principal Strategist Energy Transition Forum for the Future SE Asia sekaligus Presiden dan CTO Nascent Technologies Corp. Dr. Joey Ocon menekankan pentingnya standar keselamatan dan pengelolaan baterai sejak tahap awal pengembangan.
Menurut Joey, negara-negara Asia Tenggara perlu mengadopsi standar baterai yang telah teruji sebelum proyek penyimpanan energi berskala gigawatt mulai beroperasi.
Dia menyoroti perlunya sertifikasi sistem berdasarkan data pengujian ketahanan api yang nyata, pelibatan otoritas pemadam kebakaran dalam penentuan lokasi instalasi, serta kejelasan tanggung jawab pengelolaan baterai setelah masa pakainya berakhir.
"Memprioritaskan standar keamanan dan daur ulang sejak awal adalah kunci agar penyebaran sistem penyimpanan energi ini dapat bertahan dalam jangka panjang," tegas Joey.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.