Selain proyek hilirisasi di Maluku Utara, perkembangan investasi nasional juga menjadi perhatian. Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Investasi sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional.
Dia menjelaskan, capaian tersebut perlu diikuti dengan agenda pemerataan manfaat investasi, khususnya melalui penguatan hubungan antara industri besar, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lembaga pendidikan, serta pemerintah daerah.
“Investasi yang berkualitas adalah investasi yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu diperkuat. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri,” jelasnya.
Dia juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek lingkungan, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan dalam pengembangan kawasan industri. Dengan demikian, percepatan hilirisasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas serta tanggung jawab sosial dan lingkungan.
“Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi dari negara yang mengekspor bahan mentah menjadi negara industri menghasilkan manfaat jangka panjang. Kita ingin sumber daya alam tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemajuan teknologi, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” tukasnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.