Suahasil melaporkan realisasi belanja negara hingga akhir September 2026 telah menyentuh angka Rp2.660,5 triliun. Penyerapan anggaran ini setara dengan 69,2 persen dari keseluruhan target belanja dalam APBN yang dipatok sebesar Rp3.842,7 triliun.
Kendati penyerapan selama sembilan bulan pertama baru berada di level 69,2 persen, Suahasil optimistis laju pengeluaran kas negara bakal mengalami lonjakan signifikan pada sisa tahun anggaran berjalan.
"Ada sedikit peningkatan menuju November-Desember," kata Suahasil saat.
Akselerasi belanja negara per September 2026 ini berjalan jauh lebih pesat bila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun anggaran sebelumnya.
Sementara, pemerintah juga menarik utang baru sebesar Rp494,3 triliun hingga September 2026. Nilai ini setara 59,4 persen dari target yang dipatok dalam APBN sebesar Rp 832,2 triliun.
Suahasil menilai pembiayaan utang tetap terjaga. Pembiayaan utang pada periode ini juga lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun lalu Rp502,9 triliun atau 64,8 persen dari target APBN Rp775,9 triliun.
"Pembiayaan utang terjaga on track," kata Suahasil
Utang baru itu berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp497,5 triliun atau 62,2 persen dari target APBN Rp799,5 triliun. Kemudian, yang berasal dari pinjaman masih mencatatkan minus sebesar Rp3,2 triliun.
"Jadi sudah 62,2 persen. Kita sangat memperhatikan kondisi pasar SBN dan juga kondisi ekonomi global di dunia," tambah Suahasil.