Selain memantau progres fisik, implementasi BIM juga diarahkan untuk meningkatkan ketepatan perencanaan dan mitigasi risiko konstruksi. Pemodelan digital membantu pemeriksaan kesesuaian elemen bangunan, sedangkan pengembangan informasi jadwal dan kuantitas pekerjaan melalui BIM 4D dan 5D dapat mendukung analisis waktu serta kebutuhan biaya. Pemanfaatannya diharapkan memperkuat pengendalian pelaksanaan proyek sejak tahap perencanaan hingga penyelesaian konstruksi.
Untuk memastikan penerapan berjalan sesuai standar, Kementerian PU melaksanakan pemantauan dan evaluasi data digital melalui indikator kinerja atau Key Performance Indicator (KPI). Penilaian mencakup kelengkapan dokumen perencanaan implementasi BIM, kesiapan personel, ketersediaan CDE, pengelolaan dan keamanan data, reviu dokumen, pemodelan 3D, simulasi 4D, serta analisis 5D. Berdasarkan pedoman pelaksanaan, asesmen mandiri oleh satuan kerja dan penyedia jasa dilakukan setiap dua minggu, kemudian divalidasi dan diolah untuk pelaporan.
Pengelolaan data digital juga menjadi bagian penting dalam proses serah terima pekerjaan. Pemeriksaan mencakup kelengkapan dokumen, kualitas model 3D, kesesuaian data jadwal dan kuantitas pekerjaan, dokumentasi pelaksanaan, serta informasi aset. Dengan demikian, data hasil pembangunan tidak hanya mendukung pengawasan selama konstruksi, tetapi juga dapat menjadi dasar pengelolaan dan pemeliharaan bangunan pada tahap berikutnya.
Melalui penerapan BIM dan CDE PU pada pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II, Kementerian PU mendorong transformasi digital konstruksi yang tidak berhenti pada pembuatan model bangunan, tetapi menghasilkan manfaat nyata dalam pengawasan, koordinasi, dan pengendalian proyek. Upaya ini diharapkan mendukung pembangunan fasilitas pendidikan yang berkualitas melalui proses konstruksi yang lebih terukur, dan akuntabel.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.