JAKARTA - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan serius dalam membenahi pasar modal, terutama dari sisi transparansi, likuiditas, dan efektivitas pengawasan perdagangan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan yang disoroti penyedia indeks global atau Global Index Provider, khususnya terkait kredibilitas dan tata kelola pasar modal Indonesia.
Jeffrey menyebut, pasar modal Indonesia sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah berbagai dinamika yang terjadi sepanjang tahun ini.
Namun begitu, dia mengakui pasar modal Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama menyangkut transparansi, kredibilitas, dan tata kelola yang menjadi perhatian Global Index Provider.
"Secara fundamental, kinerja perusahaan tercatat di bursa masih baik. Nilai transaksi harian masih tumbuh di atas 10 persen. Jumlah investor kita tumbuh lebih dari 50 persen. Tetapi di sisi lain, kita juga menghadapi tantangan di tahun ini," katanya dalam acara pembukaan Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 Kamis (5/11/2026).
Jeffrey memastikan, BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serius melakukan berbagai pembenahan untuk meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia.
"Kami di Bursa Efek Indonesia bersama dengan SRO dan OJK tentu sangat serius untuk meningkatkan transparansi, meningkatkan likuiditas, dan juga meningkatkan efektivitas dari pengawasan," ujarnya.
Dari sisi transparansi, BEI telah mengungkapkan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen. Selain itu, bursa juga telah menyampaikan informasi mengenai data investor yang lebih terperinci atau granular. Upaya tersebut akan terus dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas keterbukaan informasi.
Sementara dari sisi likuiditas, BEI berupaya memperdalam pasar, baik dari sisi permintaan (demand) maupun penawaran (supply). Bursa juga mendorong pembentukan harga (price discovery) yang lebih baik serta peningkatan likuiditas melalui kebijakan yang tidak lagi menerapkan floor price di pasar.
Adapun dari sisi pengawasan, BEI akan meningkatkan efektivitas pemantauan perdagangan melalui penerapan real-time flagging. Sistem tersebut akan digunakan untuk mendeteksi indikasi pelanggaran dalam aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia secara langsung.
"Tentu kombinasi dari transparansi yang lebih tinggi, likuiditas yang lebih baik, dan pengawasan yang lebih efektif akan menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan pasar kita ke depan," ujar Jeffrey.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.