JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai industri sektor jasa keuangan di dalam negeri relatif stabil di tengah berlanjutnya konflik geopolitik, tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga global. Kondisi ini turut membawa dampak terhadap kenaikan harga energi yang diikuti oleh peningkatan inflasi.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai ketidakstabilan politik global yang menciptakan konflik geopolitik itu juga mendorong investor di pasar keuangan untuk bersikap hati-hati. Sebab setiap negara akan mengambil kebijakan stabilitas ekonomi di dalam negeri.
"Gelombang instabilitas politik global turut meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor di pasar keuangan global untuk bersikap lebih berhati-hati," ujarnya dalam Konferensi Pers RDKB Bulan Oktober 2026, Kamis (5/11/2026).
Lebih lanjut, Friderica mengatakan peningkatan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga energi akan mendorong bank sentral di setiap untuk mempertahankan suku bunga tinggi. OJK memperkirakan suku bunga tinggi akan dipertahankan setidaknya hingga tahun 2027.
"Keterbatasan ruang fiskal semakin mempersempit kapasitas pemerintah di berbagai negara, khususnya di kawasan Eropa, dalam memberikan subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan," lanjutnya.
Sementara di dalam negeri, kata Friderica, permintaan masih menunjukkan pola konsumsi yang konservatif. Inflasi domestik mengalami peningkatan yang terutama didorong oleh kenaikan harga pangan. Namun, pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti relatif masih stabil.
Di sisi lain, penjualan kendaraan bermotor mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik, terutama didorong oleh peningkatan penjualan mobil listrik. Aktivitas manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 juga mencapai level tertinggi sejak Maret 2020.
"Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 masih terjaga positif di level 5,4 persen secara tahunan (year-on-year), dengan seluruh lapangan usaha juga tumbuh," ungkap Friderica.