JAKARTA - Langkah perusahaan pemasaran Buzz & Co yang mengirimkan peti mati sebagai sarana promosi menuai kecaman dari kalangan penggiat pemasaran (marketer) sendiri.
Seorang marketer memang dituntut untuk melakukan pemasaran yang tidak biasa, sensasional dan unik. Tapi, marketer yang baik juga harus memperhatikan budaya dan norma yang berlaku. Serta tingkat sensitifitas masyarakat itu sendiri.
"Indonesia itu bangsa yang sangat beragam, bangsa yang bhinneka tunggal ika. Punya aturan, norma, sensitif, dan berbudaya. Hal itu harus diperhatikan," jelas marketer sekaligus penulis buku Biang Penasaran Kafi Kurnia saat berbincang dengan okezone di Jakarta, Selasa (7/6/2011).
Pasalnya, marketing peti mati yang dilakukan CEO Buzz & CO Sumardy MA menjadi polemik. Karena marketer ini mempromosikan produk dengan cara yang kurang pas. Dia mengkomunikasikan produk dengan mengirim peti mati tanpa identitas yang jelas. Apalagi saat ini Indonesia lagi demam bom. Alhasil, penerima jadi parno karena paket kirimian itu dikira bom.
Bahkan, Polisi sampai datang ke beberapa titik penerima, guna mengantisipasi tragedi Bom Buku Utan Kayu, yang memakan tumbal tangan. Yang jadi masalah lagi, dia tidak mengkomunikasikan rencananya ini ke pihak Kepolisian.
Sumardy adalah marketer yang menganut paham word by mouth. Paham ini memang masih belum umum di Indonesia, tapi kabarnya paham marketing ini memang sudah lumayan diterima masyarakat Amerika Serikat (AS). Langkah Sumardy mengirim 100 peti mati ke sejumlah perusahaan terutama media massa, termasuk okezone sebagai bagian promosi buku rest in peace.
"Kalau dalam budaya lain mungkin tidak masalah, tapi dalam budaya ini bermasalah. Karena dianggaap meresahkan dan mengganggu," imbuhnya.
(Widi Agustian)