nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Strategi Manajemen Perubahan

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 11 November 2016 10:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 11 11 320 1538683 strategi-manajemen-perubahan-s0VooMHyDA.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Terjadinya perubahan merupakan tanda adanya kehidupan dan jika dikelola dengan benar menjadi indikasi pertumbuhan dan perkembangan.

Perubahan disebabkan faktor internal maupun eksternal, karena desakan dan tekanan ataupun sukarela dan diprogramkan. Kita yang mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perubahan atau kita yang berinisiatif untuk melakukan perubahan. Mereka yang berinisiatif melakukan perubahan terlebih lagi yang menciptakan tren perubahan biasanya menjadi leader, sedangkan yang mengikuti perubahan menjadi follower.

Sedangkan, mereka yang bersikeras tidak mau melakukan perubahan biasanya tertinggal di belakang dan cepat atau lambat akan menjadi sekadar catatan sejarah. Ironisnya, sebuah perubahan yang sesungguhnya merupakan tuntutan, tidak selalu diterima dengan baik, dan tidak jarang menghadapi penolakan dan yang terburuk, sabotase oleh mereka yang terkena, merasa diri telah dan paling berjasa di perusahaan karena ikut membangun dan memberikan kontribusi.

Oleh karena itu, perubahan memerlukan strategi, agar perubahan yang diinginkan dapat diterima secara positif dan diterapkan pada semua lapisan secara optimal dengan hasil maksimal:

1. Pastikan bahwa orangorang di organisasi mengerti perlunya dan pentingnya perubahan dari waktu ke waktu; bagi perusahaan dan bagi mereka. Cara sederhana adalah dengan mengingatkan mereka bahwa setiap hari, ketika mereka berangkat kerja, pasti mereka becermin terlebih dahulu untuk melihat dirinya apakah telah berpakaian rapi, menyisir rapi dan yang wanita berdandan dengan makeup supaya terlihat cantik dan charming. Sekalipun sudah rapi setiap hari, tetap saja kita merapikan diri dengan mencoba pakaian baru, baju baru, celana baru dan penampilan baru. Sama halnya dengan perusahaan, kita merasa bahwa perusahaan telah baik dalam segala hal akan tetapi tetap kita akan menemukan banyak hal yang masih dapat kita perbaiki dan perlu kita ubah untuk lebih baik lagi.

2. Libatkan semua orang dalamperubahanditempat dandepartemen masing-masing agar mereka merasa bahwa perubahan bukan merupakan perintah dan paksaan dari atas. Biarkan semua bergotong-royong dalam semangat kebersamaan yang tinggi menuju perubahan yang lebihbaiklagi demidanuntukkepentingan bersama.

3. Sederhanakan apa yang dapat disederhanakan, jangan sebaliknya. Baik dalam komunikasi, maupun dalam sistem dan prosedur. Dalam era digital, banyak hal yang dapat diambil alih oleh teknologi dan teknologi informasi (IT). Jangan jadikan waktu kita habis berkutat dengan hal-hal yang dapat dikerjakan oleh mesin, komputer dan robot. Lebih baik kita menggunakan waktu kita untuk hal-hal yang tidak dapat dikerjakan oleh mesin dan memikirkan hal-hal yang strategis untuk kepentingan jangka panjang dan berdampak besar.

4. Persiapkan program perubahan yang sistematis, berikan pelatihan dan kesempatan kepada semua yang berkepentingan untuk menerapkan perubahan dari cara dan situasi kondisi lama ke cara dan situasi yang baru. Setiap kemungkinan yang akan terjadi selama dapat diperkirakan telah dituangkan ke dalam program, sehingga tidak terkaget-kaget. Hanya yang betul-betul di luar dugaan, bersifat darurat, force majeur yang memerlukan keputusan dan penanganan khusus.

5. Jangan menutup-nutupi kesalahan (sugarcoat the truth), ABS (asal bos senang). Anjurkan dan dorong semua karyawan untuk terbuka dan berani dalam menyampaikan pendapat, kesan, dan kritikan terhadap program baru yang dijalankan. Hal ini penting mengingat rasa takut, enggan dan merasa berisiko dalam menyampaikan khususnya kritik, sehingga di atas permukaan semua serba-baik dan lancar, padahal di bawah permukaan terjadi kebingungan dan bahkan kekacauan.

6. Perhatikan emosi dan logika, agar berjalan dalam keseimbangan. Terlalu mengandalkan logika, tanpa memperhatikan perasaan orang akan melukai perasaan, menyebabkan program terhambat, diakibatkan unsur sabotase halus maupun kasar. Sebaliknya, terlalu mengakomodasi perasaan dan emosi-khususnya mereka yang terkena roda revolusi perubahan-tidak peduli dengan tren yang menurun dan ketinggalan bagi perusahaan akan menyebabkan keadaan perusahaan memburuk dan tidak terselamatkan.

7. Tingkatkan dan pererat hubungan baik atasan dengan bawahan dan sebaliknya, juga antar-sesama agar komunikasi lebih terbuka. Timbulkan perasaan sebagai team-work selain untuk memberikan rasa tenang, penuh keyakinan, dan menikmati pengalaman yang mengasyikkan dengan perjalanan (proses) dan memperoleh kepuasan dengan hasil (destinasi). Sebuah sukses jauh lebih dirasakan dalam kebersamaan.

8. Lakukan pencatatan terhadap perubahan yang dilakukan; situasi sekarang atau sebelumnya, proses dalam perubahan dan hasil perubahan. Selain untuk dokumentasi juga untuk bahan pembelajaran baik untuk kemudian hari, maupun untuk disharing -kan kepada departemen lain. Kisah sukses penting untuk mendorong semangat dan sekaligus untuk membuktikan kepada para penentangperubahan.

9. Akui dan berikan penghargaan pada individu dan departemen yang berhasil dalam menjalankan program perubahan, baik dari kecepatan dan ketepatan waktu, perbandingan terhadap keadaan sebelumnya maupun target yang disasar dengan program perubahan dan dampak yang diperoleh. Semakin signifikan, semakin perlu diketahui oleh semua lapisan organisasi agar menjadi contoh dan acuan. Adakan acara khusus dan spesial bagi agen-agen perubahan yang telah memberikan komitmen dan berbuat terbaik dengan hasil maksimal.

Eliezer H Hardjo

 

Ketua Dewan Juri Rekor Bisnis (ReBi) & The Institute of Certified Professional Managers (ICPM)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini