Bisnis Menggiurkan

Omzet Pernak-Pernik Imlek Capai Rp25 Juta/Hari

Saugi Riyandi - Okezone
Selasa, 17 Januari 2012 06:31 wib
Pedagang pernak-pernik menjajakan dagangannya di Pasar Baru. Foto: okezone
Pedagang pernak-pernik menjajakan dagangannya di Pasar Baru. Foto: okezone
MENJELANG hari raya, masyarakat kerap mencari pernak-pernik yang digunakan untuk menghiasai atau pun memeriahkan hari raya tersebut. Tidak heran, menjelang hari-hari raya seperti Natal, Tahun Baru, dan Imlek sehingga banyak yang beralih menjadi pedagang musiman yang menjual pernak-pernik tersebut.

Contoh saja pria paruh baya Pemilik toko Indah Alam yang akrab dipanggil Asbun di Pasar Asemka. Pak Asbun yang menjual pernak-pernik untuk Imlek menjelang tahun baru China tersebut, mengaku omzetnya bisa mencapai sekira Rp20 juta-Rp25 juta per hari.

"Jual seperti ini hanya musiman. Jual pernak-pernik imlek dimulai dari Januari. Omzetnya kalau sinchia (pernak-pernik) Rp20 juta-Rp25 juta," tuturnya kala berbincang dengan okezone di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penjualan musiman ini memang menggiurkan, terlebih ketika adanya perayaan Natal. "Kalau Natal kita jual (omzetnya) hampir Rp100 juta per bulan," tambahnya.

Layaknya barang musiman, barang yang paling banyak dicari juga barang yang berhubungan dengan Shio saat ini, yakni Naga. "Seperti lampion bergambar naga, patung naga, angpau naga dan raja uang yang dipercaya membawa keberuntungan atau hoki kepada orang yang mempunyai barang-barang tersebut," jelas dia.

Selain itu, Asbun mengungkapkan barang lainnya yang menjadi ciri khas imlek adalah Bunga Sakura. Bunga sakura banyak dicari karena suasananya memang menunjukkan simbol Imlek tersebut. "Bunga Sakura juga banyak yang nyari selain barang-barang Imlek lainnya," ungkap pedagang yang sehari-hari menjual bunga itu.

Dia menambahkan, memang kebanyakan konsumennya warga keturunan China, namun tak sedikit pula warga Indonesia yang membeli pernak pernik untuk imlek ini. "Mereka bilang kami memang mengikuti perayaan Imlek karena nenek moyangnya mungkin orang China," lanjutnya.

Senada dengan Asbun, pertokoan di pusat kota, tepatnya Pasar baru, di mana kebanyakan warga Tionghoa tinggal juga terdapat pedagang musiman pernak-pernik khas hari raya. Ardi misalnya, pedagang pernak-pernik Imlek ini mengaku memang menjajakan pernak-pernik hanya saat hari raya saja. "Saya dagang musiman tetapi tiap tahun tahun selalu dagang ini," ungkap Ardi.

Dia mengatakan, berdagang pernak-pernik saat hari raya memang cukup menjanjikan. "Omzet bisa Rp500 ribu-Rp750 ribu tahun lalu. Sekarang bisa sampai Rp1 juta per hari," jelasnya.

Sama seperti Asbun, Ardi mengungkapkan, kebanyakan barang dagangannya tersebut dibeli orang keturunan China, tapi tak jarang juga orang lokal yang membeli. "Biasanya kalau orang lokal beli lampion buat dipasang kantor. Biasanya mereka pesan banyak ke kita," tuturnya.

Menurutnya, pernak-pernik yang paling banyak diminati adalah angpau yang sesuai dengan shio tahun ini. "Angpau shio naga yang banyak dibeli karena memang sekarang shionya naga," tegasnya.

Lebih lanjut, Ardi menambahkan, biasanya menjual pernak-pernik ini dari seminggu sebelum Imlek hingga Cap Go Meh atau 15 hari setelah Imlek. "Setelah itu saya dagang kaca mata seperti biasa," pungkas Ardi.

Sementara itu, salah satu pembeli bernama Yanto mengatakan, lampion dan Raja Uang atau Hook menjadi barang yang paling dicari karena dipercaya dapat memberikan rejeki di perayaan Imlek setiap tahunnya.

"Kami setiap tahun selalu membeli barang-barang khas Imlek karena memang dikatakan bisa dapat keberuntungan atau Hoki kepada pemegang barang tersebut," pungkasnya. (ade)
TWITTER »
twit