JAKARTA - Iklim usaha di Indonesia ternyata tidak hanya diberatkan dengan tuntutan kenaikan upah buruh, tetapi banyaknya pungutan liar alias pungli menjadi beban berat usaha di Indonesia.
Direktur INDEF Enny Sri Hartati menjelaskan, dengan adanya pungutan liar ini menyebabkan naiknya biaya ekonomi yang berakibat buruk bagi buruh dan pengusaha sebagai korban.
"Masalahnya banyak pungli. Kalau dilihat dari nominalnya ya besar, akar persoalannya ini yang harus diselesaikan. Biaya lain itu tidak bisa dihindari kemudian dibebankan kepada harga produk," jelasnya dalam acara Polemik Sindo Radio, di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (4/2/2012).
Ketua Advokasi Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Antony Hilman berpendapat sama. Dia menilai pungutan liar membuat pengeluaran perusahaan jadi membengkak.
"Untuk label saja pada perusahaan padat karya biaya sudah mencapai 30 persen. Padat modal 10 persen. Over head cost-nya bisa lebih dari 50 persen. Persoalan ini membuat pengusaha dan buruh menjadi korban sistem," tukasnya.
Oleh karena itu, dia berharap kenaikan upah buruh yang dituntut saat ini jangan terlalu tinggi, karena pengusaha dan buruh sama-sama sebagai korban.
"Kenaikan upah menjadi beban bagi biaya. Tetapi persoalannya, tentu itu harus dipatuhi. Tapi faktanya ketika upah naik dibawa ke pasar apakah daya beli mereka meningkat?" pungkasnya.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.