Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Inflasi Tinggi Picu Gunjang-ganjing di Pasar Keuangan

Wahyudi Aulia Siregar , Jurnalis-Jum'at, 05 April 2013 |16:35 WIB
Inflasi Tinggi Picu <i>Gunjang-ganjing</i> di Pasar Keuangan
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

MEDAN - Meningkatnya laju tekanan inflasi sejak awal tahun ini memberikan kekhawatiran bagi kemungkinan kenaikan BI Rate dalam waktu dekati. Sejumlah investor di surat utang negara pun sepertinya sudah mengetahui hal tersebut. Terlihat dari transaksi penjualan surat utang yang cenderung turun akhir-akhir ini.

Analis Pasar Keuangan Danareksa Sekuritas Medan Gunawan Benjamin mengatakan, kondisi ini tentunya akan mengganggu likuiditas dalam jangka pendek. Sehingga pada dasarnya hal ini akan mempengaruhi pemerintah untuk kembali menaikkan bunga acuan (BI Rate) maupun FASBI.

Padahal inflasi yang naik akhir-akhir ini lebih dikarenakan oleh meningkatnya harga sejumlah produk holtikultura yang secara fundamental tidak akan efektif bila diredam dengan cara-cara moneter seperti menaikkan BI Rate.

"Pelaku pasar pun masih menunggu data inflasi April mendatang. Ini tentunya berbahaya, bila inflasi tinggi dan BI Rate belum dinaikkan maka akan terjadi rush di pasar keuangan kita. Tekanan IHSG dan nilai tukar rupiah akan menjadi-jadi bila inflasi tidak segera diantisipasi dengan penyesuaian bunga," jelasnya, Jumat (5/4/2013).

Gunawan menambahkan, BI tentunya tidak akan diam saja dengan kondisi itu. Ia berkeyakinan bila inflasi naik April nanti, maka besar kemungkinan BI rate akan mengalami kenaikan paling besar 50 basis poin.

"Pembalikan modal keluar juga diperkirakan masih akan bisa dikendalikan. Sentimen meningkatnya tren permintaan imbal hasil pada lelang surat utang negara memang mengindikasikan buruknya ekspektasi investor terhadap kinerja inflasi ke depan," tambahnya.

Sementara itu, sejumlah masalah subsidi BBM yang terus mengantung juga akan menambah kekhawatiran investor. Meskipun investor tetap memiliki keyakinan yang besar bahwa BBM tidak akan naik tahun ini, akan tetapi kondisi bisa saja berbalik manakala pemerintah sudah melakukan sejumlah opsi selain menaikkan harga BBM namun gagal.

"Tren bunga rendah sepertinya sudah mulai meredup seiring dengan pengurangan subsidi hingga tingginya impor yang membuat defisit transaksi berjalan," tandasnya.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement