Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Modal Rp5 Jt, Produsen Batik Madura Raup Omzet Rp300 Jt

Rizkie Fauzian , Jurnalis-Senin, 03 Juni 2013 |10:49 WIB
Modal Rp5 Jt, Produsen Batik Madura Raup Omzet Rp300 Jt
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

MADURA - Keanekaragaman seni dan budaya Indonesia salah satunya terlihat dari jenis batik yang ada di setiap kotanya. Batik Madura menjadi salah satu jenis batik tulis yang diminati konsumen baik lokal maupun internasional dengan karakter kuat dengan warna berani seperti merah, kuning, hijau muda, dan lainnya.

Siti Maimonah merupakan satu dari sekian banyak pengusaha batik Madura. Siti mengaku jika dia adalah generasi keempat yang meneruskan usaha batik keluarganya. Berawal dari kecintaannya terhadap seni batik, hingga kini dirinya tetap konsisten mempertahankan seni budaya Batik Madura.

"(Bisnis) berawal dari kecintaan saya terhadap batik. Selain itu, ini juga merupakan warisan keluarga yang diturunkan kepada saya," ujarnya, di Madura, belum lama ini.

Menurut Maimonah, kecintaannya membuat batik awalnya bukan didasari oleh keinginan menghasilkan uang, tetapi karena kesenangannya akan batik tersebut. Keinginan untuk melestarikan kembali Batik Madura dengan cara berinovasi dalam menciptakan motif-motif batik turut menjadi alasannya.

Modal Awal

Sejak 1990-an, Maimonah memberanikan diri membuka kembali usaha Batik Madura dengan modal awal Rp5 juta dan dibantu oleh tiga orang karyawan. Hingga kini, usaha batiknya mampu mempekerjakan kurang lebih 400 orang pegawai dengan omzet per bulan mencapai Rp300 juta.

Hingga saat ini, usaha batik miliknya memiliki enam outlet yakni dua di Madura, tiga di Jakarta, dan satu di Surabaya. Sementara untuk pencinta batik buatannya, mayoritas masih berada di Indonesia seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta, Surabaya, dan lain-lain.

"Selain domestik, mancanegara seperti Jepang, Thailand, Australia, Italia, juga menjadi target penjualan kami, hanya saja Jepang tetap yang dominan, karena mereka menyukai corak batik dengan warna yang kuat," ungkap Maimonah.

Maimonah mengungkapkan, seiring dengan perkembangan tren saat ini, produksi kain batiknya kini memiliki harga yang paling murah seharga Rp60 ribu. Menurutnya, kini masyarakat sudah melihat batik sebagai pakaian yang dapat digunakan sehari-hari, untuk itu maka dirinya menyesuaikan harga dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Sebelumnya, batik milik Maimonah tersebut dibanderol Rp500 ribu, namun karena banyaknya permintaan pasar, maka harga yang ditawarkan berkisar ratusan hingga jutaan.

Menurutnya, harga batik yang fantastis, dikarenakan proses pembuatannya batik tersebut sangat rumit dan memakan waktu bahkan berbulan-bulan. Maka tidak heran, batik buatannya ada yang mencapai Rp7 juta.

"Prosesnya rumit dan sulit, semakin mahal harga batiknya, tingkat kesulitannya juga semakin tinggi," imbuhnya.

Sejak 2005, usaha batik milik Maimonah menjadi mitra binaan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Sejak memutuskan untuk menjadi mitra, pihaknya telah mendapatkan dana segar sebesar Rp15 juta hingga Rp20 juta. Selanjutnya, pihaknya memperoleh kembali dana sebesar Rp100 juta.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement