JAKARTA - Institute for Development of Economic and Finance (Indef) menilai target pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang telah disepakati DPR dalam APBNP 2013 tidak realistis. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi global masih belum menunjukkan adanya perbaikan berarti.
"Sangat sulit kita mengharapkan pertumbuhan di atas 6 persen dan sulit inflasi di bawah 7 persen," kata Direktur Indef Enny Sri Hartati dalam konferensi pers tanggapan Indef atas Rancangan APBN-Perubahan 2013 di Apartemen Royal Park, Jakarta, Senin (10/7/2013).
Enny mengatakan, kesulitan tersebut disebabkan harga-harga akan mengalami kenaikan menjelang bulan Ramadan, di tengah rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
"Selain itu ada juga rencana kenaikan harga elpiji 12 kilogram (kg), jadi sulit membuat target inflasi di bawah 7 persen, kecuali Badan Pusat Statistik (BPS) membuatnya 7 persen di laporannya," katanya.
Enny mengaku heran atas laporan BPS yang menyebutkan bahwa pada Mei terjadi deflasi 0,03 persen. Padahal menurutnya, banyak harga-harga barang pada Mei mengalami kenaikan. "Semua harga naik tapi BPS bilang deflasi 0,03 persen. saya heran bagaimana BPS mengukur inflasi," tukas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.