JAKARTA - Akhir-akhir ini, waktu tunggu kontainer di pelabuhan atau dwilling time di pelabuhan Tanjung Priok meningkat menjadi 13-14 hari. Jika terus dibiarkan tentu selain menyebabkan kemacetan akibat antrean kontainer juga akan sangat menggangu distribusi bahan pangan dari pelabuhan terutama menjelang bulan puasa dan Lebaran.
Oleh karena itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pelabuhan Tanjung Priok, setelah sebelumnya juga telah memerintahkan Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar untuk berkantor dua kali seminggu di pelabuhan tersebut untuk menjaga arus barang.
Sampai di lokasi, Chatib ditemani Mahendra Siregar dan Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono berkeliling kompleks Pelabuhan Tanjung Priok dan akhirnya menepi di Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) Kantor Bea Cukai yang berlokasi di IPC Multi Terminal Tanjung Priok.
Setelah melakukan penelusuran, Chatib mengatakan salah satu penyebab lamanya dwelling time di sana adalah ongkos barang menginap lama di pelabuhan sangat murah. Kemungkinan, menurut Chatib, biaya tersebut jauh lebih murah daripada harus menyewa gudang akibatnya pelabuhan dijadikan gudang.
"Salah satu penyebabnya biaya untuk long stay kontainer di sini murah sekali. Di sebelah sana Rp50.000 per container 20 feet per hari per CBM, di sini Rp2.200 per meter kubik. Ini murah sekali, jangan-jangan biaya gudang lebih mahal di luar akibatnya ini jadi gudang. Bayangkan bayar parkir sekarang Rp4.000 per jam, dikali 24 jam itu," tutur Chatib di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (8/7/2013) malam.
Chatib mengatakan, jika tempat penurunan barang dijadikan sebagai gudang maka akan terjadi penumpukan sehingga perpindahan kontainer atau truk pengakut akan susah.
Maka untuk memperbaiki itu, Chatib melakukan beberapa langka. Pertama, meminta Mamenkeu Mahendra Siregar berkantor dua kali seminggu di Pelabuhan Tanjung Priok mencari solusi memperbaiki pengawasan dan manjemen risiko bongkar muat barang dari kapal.
“Kemudian, kedua, kita lihat di sini koordinasi otoritas pelabuhan dengan tempat pemeriksaan fisik itu penting sekali. Kalau sistem terpadu seperti di sini, itu akan sangat berguna," katanya.
Ketiga, tambahnya menyelesaikan waktu menginap lama (long stay). “Long stay ini tidak bisa kalau dibuat begini terus. mau sampai kapan? karena Kni akan berubah menjadi gudang. Harus ada upaya menyelesaikan ini," ujarnya.
Keempat, menambah staf yang bisa bekerja sampai jam 23.00 WIB tiap hari dan setiap hari sabtu bekerja hinga jam 17.00 WIB.
Chatib mengatakan dirinya akan membicarakan secara detail dengan Mahendra untuk memperbaiki manajemen risiko di pelabuhan, termasuk juga pengawasan sehingga bongkar muat barang dari kapal ke kontainer dapat berjalan dengan lancar.
“Ini (perbaikan manajemen risiko) yang sekarang kita bicarakan lebih detail dengan Pak Wamen (Mahendra), termasuk untuk melihat pengawasan seperti apa, bagaimana yang efisien, di dalam jalur merah berapa yang sebaiknya, berapa persen, di jalur hijau apa yang harus dilakukan. Nanti juga misalnya salah satunya adalah harus bertahap juga, penggunaan teknologi modern karena kalau pakai X-Ray segala macam proses bisa jauh lebih cepat,” tutur Chatib.
Chatib mengatakan pihaknya akan terus mencona menurunkan dwelling time dengan menyelesaikan kemacetan yang terjadi terlebih dulu. Dia tidak menyebut berapa hari dwelling time bisa diturunkan dengan perbaikan manajemen yang akan dilakukan tersebut.
“Kita coba turunkan, yang penting sekarang yang mandek kami coba selesaikan dulu. Belum saya hitung, yang penting bagi kami ini berjalan dulu, kalau mau bikin success story jangan lihat indikatornya, yang penting jalan dan orang bisa merasa ini lebih cepat," tandasnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.