CAFTA Lebih Merugikan Daripada Kasus Century

Candra Setya Santoso, Jurnalis
Senin 26 April 2010 08:48 WIB
Ilustrasi
Share :

JAKARTA - Kerugian yang ditimbulkan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) diprediksi lebih merugikan dibanding dengan kasus bailout Bank Century.

Bukan hanya merugikan uang negara, perdagangan bebas ini bisa menyengsarakan dan menghancurkan industri dalam negeri. Karena itu, pantas jika pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China ini mendapatkan perhatian yang lebih dan DPR.

"Kalau kasus skandal Bank Century bisa di-Pansuskan (Panitia Khusus), maka untuk FTA juga harus dibuat Pansus," kata Praktisi Bisnis Glodok Hermawi F Taslim, dalam acara Trijaya FM dengan tema Setelah Dimulai Dagang Bebas Indonesia-China, di MNC Tower, Senin (26/4/2010).

Dia mengakui. Indonesia memang tidak bisa menghidari FTA, baik dengan China atau dengan negara-negara lain di dunia. Di era globalisasi ini. perdagangan bebas adalah sebuah keharusan. Nah, titik penting pembentukan pansus ini bukan untuk menolak FTA. Tapi, karena pemerintah tidak melakukan antisipasi dan persiapan untuk menghadapinya.

"Penandatanganan perjanjian ini sudah dilakukan sejak 2004. Meskinya. dalam rentang enam tahun itu pemerintah sudah siap-siap dengan memberikan informasi, membuat kebijakan dan menyediakan berbagai hal untuk menguatkan industri lokal. Sayangnya, ini semua tidak dilakukan," paparnya.

Hal inilah, katanya, yang membuat pelaksanaan FTA sangat menakutkan dan merugikan. Bukan hanya mengakibatkan industri dalam negeri akan tergerus, FTA juga bisa membuat perekonomian nasional melemah kerena bisa mengakibatkan ribuan industri dalam negeri gulung tikar dan terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Dampak sistemik FTA ini begitu besar. Karenanya, Pansus untuk FTA harus dibentuk untuk mengetahui siapa yang paling bertanggung jawab terhadap kebijakan ini," tandasnya.

(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya