JAKARTA - Bank Indonesia (BI) akan belajar dan menggandeng Bank Negara Malaysia untuk mendukung perkembangan industri syariah ke depan di Indonesia. Terutama untuk meningkatkan pangsa pasar industri syariah.
"Potensi perbankan syariah di Malaysia sangat baik, terutama jadi acuan negara-negara lain. Dengan itu, kita akan melihat lebih jauh bagaimana Malaysia dapat mencapai pangsa pasar syariah yang baik dan besar," ujar Gubernur BI Darmin Nasution dalam sambutan di acara Joint High Level Conference on Islamic Finance, di Jakarta, Senin (18/7/2011).
Menurut Darmin, sejak pertama kali mengembangkan produk keuangan syariah di 1983, perkembangan perbankan syariah di Malaysia berkembang pesat dengan menguasai 22 persen pangsa pasar perbankan syariah dari total 22 bank yang ada di Negeri Jiran tersebut.
"Dimulai dari tabungan haji produk di sana yang berbeda 10 tahun lebih dulu dari Indonesia. Di Malaysia perbankan syariahnya telah menguasai 22 persen pangsa total industri dengan memiliki 22 bank syariah, serta pasar keuangan syariah yang memiliki pangsa 72 persen sukuk," jelas Darmin.
Lebih jauh dia berharap Indonesia bisa mencontoh penerapan pengembangan industri keuangan syariah di Malaysia, yang menerapkan kebijakan dari atas ke bawah (top down) dengan dukungan langsung dari pemerintahnya. "Berbeda dengan Indonesia yang ternyata bottom up," tambahnya.
Di lain kesempatan Gubernur Bank Sentral Malaysia Zeti Akhtar Aziz menekankan bahwa memang lembaga keuangan Islam di dunia terus menunjukkan peningkatannya terutama industri perbankan syariah.
"Oleh karena itu harus didukung Sumber Daya Manusia (SDM) di industri syariah yang cukup besar dan sangat diperlukan pengembangan kerja sama antara Indonesia dengan Malaysia," ujarnya.
Menurutnya, industri ekonomi syariah kini telah berkembang pesat dan menjadi bagian penting transaksi lintas negara, dan diharapkan melalui kerja sama tersebut bisa menciptakan peluang strategis untuk mengembangkan industri keuangan dan meningkatkan transaksi lintas negara Islam.
(Andina Meryani)