JAKARTA – Rupiah yang terus melemah ternyata mempengaruhi sektor listrik. Pasalnya, rendahnya penyediaan listrik berbasis biomassa dan biogas on grid disebabkan oleh terdepresiasinya nilai Rupiah terhadap dolar dan meningkatkan harga biomassa.
Terbitnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2004 merupakan bentuk insentif untuk mendorong minat investor dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis biomassa dan biogas.
Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana menjelaskan, penerbitan Permen ESDM nomor 27 Tahun 2014 ini juga merupakan sebagai bentuk dari revisian Permen yang sebelumnya, yaitu Permen No.4 Tahun 2012.
"Karena sejak diterbitkannya Permen ESDM no 4 Tahun 2012, investasi swasta untuk penyediaan listrik berbasis biomassa dan biogas on grid masih rendah," katanya di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (22/10/2014).
Selain itu, sambung Rida, penyediaan energi listrik dari PLTBg dan PLTBm didominasi dengan skema penjualan kelebihan tenaga listrik (excess power) dan bukan merupakan pembangunan pembangkit listrik baru yang dedicated untuk penyediaan energi listrik ke jaringan PLN.
"Sehingga perlu dilakukan revisi Permen nomor 4 2012 menjadi Permen 27 Tahun 2014," tambahnya.
Rida mengungkapkan, Permen 27 Tahun 2014 ini juga pada prinsipnya untuk mendorong pemanfaatan potensi biomassa dan biogas untuk mengurangi pemanfaatan energi fosil khususnya bahan bakar minyak (BBM) pada daerah-daerah uang memiliki ketergantungan terhadap BBM dan wilayah kepulauan yang masih memiliki rasio eletrifikasi rendah.
Pada 2013, potensi biomassa Indonesia tercatat sebesar 32.654 mw dan sebesar 1.16,5 mw telah dikembangkan. Pengembangan pembangkit listrik berbasis bioenergi (on grid) sampai dengan tahun 2013 baru 90,5 mw, sedangkan pengembangan pembangkit listrik berbasis bioenergi sekira 1.626 mw.
"Pembangkit listrik tersebut berbasis biomassa, biogas, dan sampah kota. Pembangkit ini memiliki potensi di daerah terpencil yang berasal dari limbah kehutanan, limbah pertanian, industri kelapa sawit, industri kertas, industri tapioka dan lain sebagainya," pungkasnya.
(Rizkie Fauzian)