"Kami dari Pertamina tengah menyiapkan kartu sakti guna memastikan pasokan BBM untuk nelayan tersebut tepat sasaran. Kartu ini merupakan kerja sama dengan Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Persero," kata Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Hanung Budya saat melakukan kunjungan di Tempat Pelelangan Ikan Tanjung Pasir di Tangerang, Selasa (11/11/2014).
Menurut Hanung, sistem pengawasan tersebut akan terus disosialisasikan, dan ditargetkan akan rampung dalam satu bulan mendatang.
"Kita sedang bangun sistem, sistem yang lama sudah ada. Bersama KKP dan BRI nanti waktunya akan disampaikan. Targetnya satu bulan," tambah dia.
Hanung juga membantah kalau kartu sakti ini ada kaitannya dengan rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Sistem ini hanya untuk memastikan nelayan mendapatkan BBM bersubsidi untuk aktivitas mereka. Agar BBM subsidi digunakan secara produktif. Tidak dijual ke laut. Kita berharap ada sistem satu nelayan bisa dapat berapa per harinya. Sistem itu bisa mencatat dan memastikan solar digunakan dengan benar. Negara pun dapat pendapatan dari pajak," jelas Hanung.
Penggunaan kartu sakti untuk nelayan tersebut merupakan salah satu cara untuk mendukung program pemerintah. Dukungan ini diberikan dalam bentuk melakukan pendataan kembali jumlah kapal nelayan yang berhak membeli BBM bersubsidi, sehingga secara tidak langsung pendataan ini dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai dasar penetapan kuota BBM bersubsidi untuk nelayan.
(Rizkie Fauzian)