JAKARTA – Perekonomian Indonesia kini sedang mengalami pergolakan. Namun kondisi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 dan 2008.
"Kondisi ekonomi kita saat ini kalau dibandingkan dengan tahun 1998 maupun 2008 dari angka-angka yang saya peroleh dikatakan jauh lebih baik. Tapi perlu saya sampaikan bahwa apapun kita harus hati-hati, waspada dan seperti yang saya sampaikan pada rapat kabinet yang lalu," tegas Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika membuka sidang kabinet paripurna dalam rangka penguatan ekonomi di Kantor Presiden, Rabu (2/9/2015).
Menurut Jokowi, penguatan ekonomi Indonesia memang diperlukan melakukan deregulasi besar-besaran dan pembuatan regulasi yang baru dan akan memberikan iklim investasi yang baik pada ekonomi dalam waktu yang secepat-cepatnya.
"Kita berkejaran dengan waktu, meskipun data yang ada seperti rasio kecukupan modal, capital adequacy ratio, perbankan Indonesia saat ini masih di atas 20 persen. Ini juga sangat bagus kalau dibanding dengan negara lain, termasuk ini yang paling baik di Asia," kata Jokowi.
Jokowi menambahkan, dengan jumlah cadangan devisa (cadev) sampai saat ini sebesar USD107 miliar akan mencukupi kebutuhan untuk tujuh bulan impor Indonesia. Kemudian rasio utang luar negeri Indonesia 34 persen ini masih sangat jauh dari rasio yang ada dari tahun 1998, yaitu di atas 120 persen.
"Kondisi-kondisi seperti ini jangan sampai membuat kita tidak hati-hati. Kita tetap harus hati-hati, jaga-jaga, waspada, semua jurus dikeluarkan," tukasnya.
(Rizkie Fauzian)