Namun, tetapnya harga BBM membuat masyarakat bertanya-tanya di tengah harga minyak dunia yang anjlok, seharusnya harga BBM turun. Padahal, harga BBM mengikuti harga keekonomian di pasar.
Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja, penentuan harga BBM jenis Premium dan Solar dilihat dari dampak psikologis kepada masyarakat, meskipun pemerintah sudah melepas harga BBM ke harga keekonomian, sehingga mengikuti pasar. Namun, jika harga BBM benar-benar dilepas menjadi harga keekonomian akan terjadi gejolak di masyarakat.
"Ini adalah pola harga minyak sepanjang 2005-2015 (naik-turun). Artinya kalau pemerintah tetapkan harga minyak ke harga pasar, maka gejolaknya akan seperti itu. Bisa dibayangkan bagaimana keekonomian kita," tegas Wiratmaja di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan, Jakarta, Senin (7/9/2015).
Wiratmaja menambahkan, pemerintah dan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sudah berkomunikasi mengenai penentuan harga BBM, yakni dievaluasi selama tiga hingga enam bulan sekali.