Direktur Departemen Bidang Infrastruktur IDB Walid Abdelwahab berujar, problem utama soal pembiayaan sektor infrastruktur adalah dilema antara kas negara yang terbatas dan dana swasta yang memiliki mekanisme kompleks.
Dia mengungkapkan, investor swasta hanya tertarik kepada proyek KPS yang bankable. ”Mereka mau proyek yang mendatang arus keuntungan yang kontinu, lalu regulasi yang kondusif, terutama soal tarif (saat infrastruktur beroperasi), dan pasar yang bagus. Masalahnya, pasar di negaranegara berkembang untuk penggunaan infrastruktur ini cukup kecil,” ucap Walid.
Sementara itu, Komisaris PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF)—lembaga bentukan IDB dan pemerintah Indonesia— Rajav Kannan mengatakan, investor swasta sebetulnya tertarik untuk menanamkan modalnya ke beragam proyek infrastruktur. Tapi, kata dia, investor tetap melihat kelayakan proyek tersebut secara bisnis.
”Masalahnya mereka hanya memilih portofolio proyek infrastruktur yang selama ini mereka kenal dan pahami polanya sehingga bisnis infrastruktur memang agak sulit menarik swasta,” katanya
(Dani Jumadil Akhir)