"Nilai ekspor menurut saya juga sangat menggembirakan, periode Januari hingga September naik 17,36% atau USD123,36 miliar dibanding periode sama 2016, ekspor non migas naik 17,37% mencapai USD125,6 miliar. Ini sebuah catatan yang saya terima, ini sebuah rekor bahkan lebih tinggi pencapaiannya dibanding saat booming komoditas. Ini jadi catatan kita semuanya. Nilai impor barang konsumsi Januari-September juga naik 11,81% , bahan baku penolong 15,21%," jelasnya.
"Sementara dari sisi Konsumsi lembaga non profit 6,01%, konsumsi rumah tangga 4,93% sedikit menurun, konsumsi pemerintah memang kecil 3,46%. Pertumbuhan tertinggi ada di informasi dan komunikasi 9,8%, jasa lainnya 8,71%," imbuhnya.
Baca juga: Tahun Politik, Menteri Bambang: Pertumbuhan Ekonomi Bisa Berjalan Tanpa Gangguan
Selain itu, penerimaan Pajak Penghasilan (PPn) pun mengalami pertumbuhan sebesar 12,1% dalam periode Januari hingga Desember 2017. Artinya lanjut Jokowi ada transaksi yang dilakukan dalam bidang perekonomian.
"Penerimaan PPN dalam negeri dari Jan-Des 12,1%, tumbuh 12,1%. Artinya kalau PPN tumbuh 12,1% disitu ada transaksi, ada kegiatan ekonomi yang dipotong PPN nya," jelasnya.