Pada kuartal pertama tahun ini, lanjutnya, perseroan juga mencatatkan laba bersih Rp1,14 triliun. Dimana angka tersebut harus turun 21,4% year on year (yoy) jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp1,45 triliun. Meskipun demikian, menurut Ariviyan, perseroan masih bisa membukukan laba yang cukup baik berkat efisiensi dan melakukan strategi pasar.
Sementara produksi batubara kuartal I 2019 sebesar 5,70 juta ton atau meningkat 8,0% yoy dari tahun sebelumnya sebesar 5,28 juta ton. Selain ini kapasitas angkutan batubara pun turut meningkat 7,6% menjadi 5,84 juta ton. Disampaikan Arviyan Arifin, peningkatan produksi batu bara berkat peningkatan operasional tersebut, sehingga volume penjualan PTBA mengalami peningkatan 5,6% yoy menjadi 6,65 juta ton, naik dari tahun sebelumnya sebesar 6,30 juta ton. “Operasional membaik karena adanya peningkatan performa jasa angkut kereta api dan efisiensi supply chain kami. Untuk menekan fluktuasi harga batubara kami juga akan terus mengupayakan penjualan dari produk batubara berkalori tinggi,” ujar Arviyan.
Sekadar informasi tahun ini PTBA menargetkan volume penjualan bisa tembus 28,38 juta ton, produksi batubara sebesar 27,26 juta ton dan kapasitas pengangkutan menjadi 25,30 juta ton. Saat ini, pendapatan perseroan dari penjualan batubara sendiri disumbang dari penjualan batubara secara domestik sebesar 46% dan penjualan ekspor sebesar 54%. Sedangkan pendapatan lain di luar penjualan batubara baru sekitar 4%.
Pendapatan lainnya itu dimaksud berasal dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa. Untuk tahun ini, perseroan membidik penjualan batu bara ke pasar ekspor sebesar 12 juta ton atau sekitar 40% dari target volume penjualan tahun ini. Nantinya, rencana ekspor batu bara tersebut merupakan kombinasi batu bara kalori medium dan kalori tinggi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)