New 'Nearly' Normal Tiongkok

Tim Okezone, Jurnalis
Minggu 10 Mei 2020 21:57 WIB
(Foto: Forbes)
Share :

TAHUN 2019, investasi Tiongkok di Indonesia menggeser Jepang. Negeri Panda ini menggandakan investasinya menjadi USD4,7 miliar dari USD2,4 miliar (yoy).

Investasi Tiongkok memang sedikit mengalami anomali. Khususnya untuk Indonesia dalam enam tahun terakhir.

Di saat, investasi negeri Panda itu mengalami tren penurunan secara global, di Indonesia justru trennya mengalami peningkatan. Bahkan kemudian menyodok Jepang. Dedengkot PMA (Penanaman Modal Asing) Indonesia sejak tahun 1970-an itu.

Posisi kedua terbesar ini tetap dipertahankan Tiongkok pada Q1-2020, setelah Singapura. Kepala BKPM mengapresiasi Dubes Indonesia di Beijing Djauhari Oratmangun saat pemaparan prospek investasi di depan ratusan Dubes di Pejambon, baru-baru ini. Diplomat berjiwa entrepreneur. Salah satu sosok di balik suksesnya investasi dari negara Tirai Bambu itu.

Baca juga: Menperin Sebut Banyak Negara Perang Dagang Alat Kesehatan Akibat Corona

Tiongkok memang banyak unggulnya. Pertama, negara ini punya duit. Mencari negara yang punya duit saat ini sangat susah.

Apalagi investornya sangat cepat. Tidak kelamaan mikir-mikirnya. Maka kedua, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan rahasia sukses Tiongkok ini pada feasibility studies-nya yang tidak kelamaan.

Di saat negara lain baru mau membuka kalkulatornya, Tiongkok sudah membangun pabrik dan pelabuhannya di negara tujuan investasinya.

Ketiga, Tiongkok berani berinvestasi ke daerah yang sulit, minim infrastruktur. Ke luar Jawa seperti Indonesia Timur.

Namun kini investasi Tiongkok mengalami ujian besar. Tak hanya untuk Indonesia, juga ke seluruh dunia. Tiongkok menjadi episentrum dunia Covid-19. Tiongkok disibukan dengan urusan dalam negerinya sendiri.

Penanaman Modal Asing (PMA) global Tiongkok mengalami demam berat. Penurunan PMA paling parah memang dialami negara-negara yang pandemiknya sangat parah juga. Sebab, permintaan di negara-negara itu memudian juga ikutan jeblok.

Tantangan berat turunan berikut adalah ekonominya tumbuh minus. Ekonomi Tiongkok terkontraksi sebesar 6,8 persen pada Q1-2020.

Kontraksi ini terbesar dialami oleh Tiongkok sejak 1978. Covid-19 memaksa pabrik dan bisnis tutup di mana-mana.

Kepala BKPM mengatakan, tentu China Effect ini merupakan pukulan berat untuk capaian PMA Indonesia pada kuartalan berikut.

Baca juga: Soal Perang Tarif dengan AS, China Ngadu ke WTO


Dampaknya, sudah terasa. Realisasi PMA kita menurun pada Q1-2019. Bahlil memperkirakan, PMA di Tanah Air akan mencapai bottom line pada Q2-2020.

Juga, ketegangan geopolitik yang tak berujung dengan Amerika Serikat. Kedua adidaya itu, saat ini, seperti Tom and Jerry.

Ketegangan ini bisa saja seusia Covid-19. Reli-reli panjang dan melelahkan ekonomi politik global ala Ardy B.Wiranata dan Liem Swie King kedua negara ini tentu akan menguras sumber daya banyak negara.

Sebab itu, tepat bila The Economist mengatakan, jangankan the new normal, the new ‘nearly’ normal saja saat ini masih jauh dari status quo. Termasuk PMA dari Tiongkok.

Melihat tantangan berat itu, Kepala BKPM mengingatkan jajarannya agar jangan menyerah.

Covid-19 tak boleh mengganggu suasana kebatinan pegawai BKPM. Setiap peluang harus segera ditangkap.

Strategi harus dinamis. Tidak boleh kakuh. Dia harus mengikuti perubahan yang sangat cepat.

Pertama, PMA akan semakin merata. Home country (negara asal PMA) akan semakin inklusif (terbuka). Kepala BKPM mengatakan, investor dari langit pun, selagi dia datang membawa uang, memberi manfaat untuk negara serta sesuai aturan akan di terima oleh BKPM.

“Kami akan jemput dibandara,” ucap Bahlil. Setelah Covid-19, PMA tak bisa hanya mengandalkan dari keranjang suatu negara.

Negara manapun dapat menjadi sumber PMA bagi Indonesia.

Kedua, BKPM akan mengoptimalkan PMA yang sudah pipe-lined namun mangkrak. Nilainya, sebesar Rp708 triliun. Sekitar 21 proyek.

Sebagian proyek-proyek ini—seperti Hyundai, Lotte, Tanjung Jati, Rosneft—sudah berjalan. Setelah COVID-19, penyisiran dan eksekusi investasi mangkrak akan dilanjutkan.

Ketiga, merevitalisasi investor-investor lama baik PMA maupun PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri). Dalam beberapa bulan terakhir BKPM telah mulai menyelesaikan hambatan-hambatan investasi yang dialami oleh investor lama.

Khusus untuk PMDN terus mengalami peningkatan. PMA juga demikian. Hanya saja, kemudian dihadang oleh Covid-19. Porsi PMDN terhadap total investasi terus meningkat.

Pada 2018 porsi PMDN kita sebesar 45,56%. Pada 2019, naik terus menjadi 47,7% dari total investasi.

Ditekan Covid-19 di Q1-2020, PMA memang melemah. Porsinya menyusut menjadi 46,5%. Namun porsi PMDN justru menguat menjadi 53,5%.

Modal domestik inilah yang menopang kenaikan investasi Q1-2019 sebesar 8,0%.

Keempat, melakukan refiling sektor-sektor unggulan investasi. Pasca Covid-19 tak hanya strategi meraih investasi yang berubah. Sektor-sektor unggulan investasi juga mengalami perubahan.

Misalnya, dulu, sektor kesehatan belum masuk sektor yang seksi bagi investor. Namun kini sektor kesehatan mengalami kenaikan yang signifikan. Yakni, dari sebelumnya berada di posisi kelima, kini melesat ke posisi kedua sektor unggulan.

Posisi pertama masih diduduki sektor perdagangan.

Kelima, memperbaiki kemudahan berbisnis atau ease fo doing business (EODB). Pemerintah, ujar Kepala BKPM harus menjami tiga hal bagi investor yakni kemudahan, kepastian, serta efisiensi.

Misalnya, selama ini, setelah mendapat NIB (Nomor Induk Berusaha) pengurusan izin usaha masih harus melalui kementerian atau lembaga sektoral. Lama, sehingga tidak efisien.

Kini, dengan INPRES No.7/2019 sentralisasi pengizinan terfokus di BKPM. Masuk dan keluar, sama-sama di BKPM.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya