JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan ke depan berpotensi untuk menunjukan tanda-tanda pelemahan. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Support IHSG di level 5.218 sampai 5.119 dan resistance di level 5.327 sampai 5.400.
Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, memanasnya kondisi geopolitik antara Amerika Serikat dan China menjadi salah satu alasan mengapa IHSG diprediksi akan melemah. Apalagi masih belum pastinya paket stimulus yang diberikan kepada pemerintah Amerika Serikat (AS).
"Belum tentu kalau sepekan ke depan. Ini tensi Amerika Tiongkok agak panas naik turun terus. Kemudian paket stimulus belum disepakati," ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (24/8/2020).
Baca Juga: Suku Bunga Acuan BI Ditahan 4%, IHSG Lesu 0,42% ke 5.273
Di tambah lagi, menurut Hans Kwee, saat ini IHSG sudah naik terlalu tinggi. Setelah sebelumnya IHSG sempat anjlok di angka 3.900 akibat pandemi virus corona.
"Ini market akan sedikit konsolidasi apalagi indeksnya naiknya terlalu banyak jadi kita khawatir terkoreksi," jelasnya.
Belum lagi, pada kuartal III-2020, ekonomi Indonesia diprediksi akan mengalami resesi. Karena dirinya memperkirakan ekonomi Indonesia akan minus 1-2% di triwulan ketiga tahun ini.
“Sedikit tentang Indonesia keliatannya dari data rata-rata yang ada kuartal III-2020 kita akan negatif kembali 1-2%. Sehingga Indonesia akan masuk ke dalam periode resesi juga,” katanya.
Namun Hans Kwee, jika dilihat secara jangka panjang respons pasar masih seperti biasa meskipun ekonomi Indonesia diprediksi resesi. Hal tersebut dibuktikan dengan IHSG yang tetap stabil dalam beberapa hari ini, meskipun harga emas terus mengalami lonjakan.
“Kenapa pasar emas bisa bergerak naik sedangkan kalau emas naik pasar saham dijual. Orang dijual pindah ke emas. Ini enggak terjadi. Karena memang orang lagi banyak duit semua,” jelasnya. (dni)
(Rani Hardjanti)