Sektor Pariwisata Redup, Desa di Bali Ini Bangkitkan Perekonomian dengan Bertani

, Jurnalis
Selasa 25 Agustus 2020 21:16 WIB
Pertanian (Okezone)
Share :

BALI - Sebuah desa berjarak sekitar 90 kilometer dari Denpasar, kedatangan ratusan warganya yang pulang merantau dari Bali selatan. Hal ini dikarenakan sektor pariwisata terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Kepala desa itu kemudian mengajak warganya untuk kembali bertani—bidang yang selama ini ditinggalkan lantaran pariwisata lebih menggiurkan. Berada di pesisir Bali bagian timur laut, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, jauh dari pusat pariwisata di Bali selatan.

Dari Denpasar perlu waktu sekitar 3,5 jam dengan kendaraan bermotor menuju desa ini. Itu pun melalui jalan naik turun dan berliku-liku.

 Baca juga: Manfaatkan Hobi Jalan-Jalan, Begini Cara Sukses Jadi Travel Blogger Berpenghasilan

Pada musim kemarau seperti saat ini, tanah-tanah di desa ini terlihat kering. Mengepulkan debu. Kebun-kebun tak terurus meski di dalamnya berisi aneka tanaman, seperti mangga, kelapa, mete, dan lontar.

Di antara beragam tanaman tersebut, Dewa Komang Yudi Astara, 34 tahun, berdiri.

Kepala Desa Tembok di perbatasan Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur laut ini berambisi mengubah Covid-19 sebagai momentum.

"Pandemi ini menjadi momentum untuk melihat apa yang kita miliki tetapi selama ini kita abaikan," kata Yudi kepada wartawan di Bali, Anton Muhajir mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Baca juga:  Usaha Jam Tangan, Begini Jatuh Bangun Tanamkan Kepercayaan Konsumen

Sumber daya terabaikan di Desa Tembok yang dimaksud Yudi adalah lahan-lahan pertanian di desa yang ditinggal merantau sebagian besar warga ke Bali selatan karena tergiur dengan uang dari sektor pariwisata. Tercatat sekitar 40% dari 2.300 kepala keluarga (KK) warga Desa Tembok memilih merantau ke Bali selatan untuk bekerja di bidang pariwisata.

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia dan membuat sektor pariwisata di Bali terpuruk pada Maret 2020, ratusan warga desa yang dulu merantau untuk bekerja di Bali selatan, sekarang kembali ke kampung halaman dan menganggur.

Dua di antaranya adalah Dewa Ketut Arta, 40 tahun, dan Nyoman Jenek Arta, 48 tahun.

Ketut Arta sudah bekerja di Kuta, kiblat pariwisata Bali saat ini, sejak 1999. Bujangan ini pernah bekerja di restoran, spa, dan terakhir sebagai sopir lepas. Pendapatan per bulannya naik turun, tetapi rata-rata berkisar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta pada saat musim puncak turis. "Itu belum termasuk tip dari tamu," katanya.

 Baca juga: Inspiratif, Penyandang Disabilitas Buat Berbagai Kerajinan Bahan Bambu

Bagi bujangan yang hidup sendiri di Kuta, Badung, Arta mengaku pendapatan itu lebih dari cukup. Dia bahkan bisa membangun rumah di kampung halamannya.

Nyoman Jenek merantau ke Bali selatan lebih lama lagi dibandingkan Arta, sejak 25 tahun lalu.

Meskipun pernah balik kampung ketika Bali terkena bom dua kali pada 2002 dan 2005, bapak tiga anak ini masih kembali ke Seminyak, kawasan sibuk yang penuh dengan restoran, kafe, hotel, toko suvenir, dan aneka fasilitas pariwisata lain.

Sehari-hari dia menjadi sopir taksi dengan pendapatan tak jauh beda seperti Ketut Arta, antara Rp5 juta hingga Rp6 juta.

Begitu pandemi menghantam Bali dan meruntuhkan pilar utama ekonomi pulau ini yaitu pariwisata, para pekerja di sektor ini pun berduyun-duyun kembali ke desa. Begitu pula dengan Jenek dan Arta.

"Sekarang pendapatan nol. Untuk makan saja kurang," kata Jenek.

Jenek mengaku selama dua hingga tiga bulan pertama kembali ke kampungnya dia merasa stres. "Mungkin karena dompet pragat metalang," katanya dalam campuran bahasa Bali. Artinya dompet tak lagi terisi.

Tak hanya Jenek dan Arta yang mengalami hal sama. Ada sekitar 700 orang lain dari Desa Tembok yang kini kembali ke desanya karena pandemi.

Selain para pekerja lepas seperti mereka, ada pula pekerja-pekerja lain yang dirumahkan atau bahkan diputus hubungan kerjanya. Dari sebelumnya mereka bisa mendapatkan setidaknya Rp5 juta per bulan, sekarang tidak ada pendapatan sama sekali.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya