Sektor Pariwisata Redup, Desa di Bali Ini Bangkitkan Perekonomian dengan Bertani

, Jurnalis
Selasa 25 Agustus 2020 21:16 WIB
Pertanian (Okezone)
Share :

Lebih dari separuh perekonomian di Bali bergantung langsung pada wisata, sedangkan seperempatnya terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata, seperti transportasi turis dan memasok makanan ke hotel serta restoran.

Sebagai gambaran, tahun lalu Bali menarik lebih dari enam juta turis asing dan 10 juta turis domestik.

Hingga pertengahan tahun ini, Bali hanya menerima 1,1 juta turis asing—hampir semuanya datang sebelum pandemi melanda. Jumlah itu merupakan penurunan drastis dari hampir 2,9 juta turis pada periode yang sama tahun lalu.

Persoalannya kemudian mereka yang kembali ke kampung tersebut ternyata tidak bisa diakomodasi begitu saja oleh pemerintah melalui skema bantuan-bantuan yang ada. Sebagian besar terhambat masalah teknis. Contohnya, mereka tidak punya pekerjaan tetap sebelumnya sehingga tak memiliki bukti surat PHK sebagai syarat mendapatkan bantuan.

Contoh lain, mereka tidak masuk kategori miskin sesuai kriteria pemerintah, tetapi saat ini sudah tak punya pekerjaan. "Mereka terpaksa hidup dari tabungan dan pinjaman," kata Dewa Komang Yudi Astara, 34 tahun, Kepala Desa Tembok.

Yudi kemudian berpikir lebih panjang, bagaimana jika pandemi ini tidak selesai dalam waktu dekat?

Karena itulah, dia pun membuat skema baru dengan mengajak para warganya kembali bertani guna menyediakan sumber pangan.

"Karena orang akan kembali ke kebutuhan dasar. Pangan akan jadi masalah serius. Bukan soal pasokan, tetapi kemampuan membeli. Karena itu paling realistis adalah menyediakan sumber pangan," kata alumni Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua ini.

Mereka yang semula sudah lama tak bertani dia ajak untuk mengolah tanah, membuat bedengan, menyemai bibit, merawat tanaman, sampai memanen hasilnya.

Sejak sekitar April 2020 lalu, dia mengajak warganya untuk membuka lahan seluas 1,5 hektare milik salah satu warga yang tidak diolah.

Di sana mereka menanam sayur-sayuran, seperti terong, tomat, cabai, pare, dan lain-lain. Setelah berhasil di satu lokasi, mereka kemudian mengembangkan ke lokasi lain seluas 42 are. Saat ini total ada sekitar 2,5 hektare lahan yang mereka tanami. Sudah enam kali panen.

Modal pembuatan kebun itu dari Anggaran Dana Desa (ADD). Sejauh ini, menurut Yudi, mereka baru menghabiskan modal Rp 100 juta. "Ini baru permulaan," katanya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya