Secercah Harapan Ekonomi Indonesia Tumbuh 7%, China dan AS Berperan

Antara, Jurnalis
Rabu 19 Mei 2021 13:39 WIB
China-AS (Foto: Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Ada beberapa keuntungan sekaligus kerugian terjadinya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China yang lebih cepat bagi pemulihan di Indonesia. Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 minus 0,74% dan Presiden Jokowi menargetkan agar bisa tumbuh 7% pada kuartal II-2021.

“Jadi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan China itu sebenarnya memberikan efek positif buat Indonesia,” kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan dalam acara daring Economic Outlook and Industry 2021 di Jakarta, Rabu (19/5/2021).

Baca Juga: Ekonomi RI 7% Harus Dikawal Ketat, Jangan Sampai Ambyar karena Covid-19 Naik 

Andry mengatakan dua perekonomian terbesar dunia yaitu AS dan China mencatat pertumbuhan positif pada triwulan I-2021 yaitu masing-masing 0,4% (yoy) dan 18,3% (yoy).

Ekonomi AS tumbuh 0,4% (yoy) didukung meningkatnya aktivitas seiring dilonggarkannya restriksi dengan semakin meluasnya distribusi vaksin serta tambahan stimulus yang diperkirakan dapat menopang laju pemulihan ke depan.

Baca Juga: Ekonomi Kuartal II-2021 Bisa Tumbuh 7% Sesuai Keinginan Jokowi? 

Dia mengatakan jika ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS naik maka akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satunya melalui ekspor industri manufaktur ke AS yang juga meningkat.

“Kita bicara top limanya adalah tekstil dan produk tekstil, kemudian ada perikanan dan yang berikutnya adalah rubber dan produk olahannya,” ujarnya.

Sementara pertumbuhan ekonomi China yang meningkat tajam sebesar 18,3% (yoy) terjadi seiring terkendalinya penyebaran COVID-19.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi China yang melonjak tajam akan memberikan dampak positif bagi Indonesia yaitu pertumbuhan ekspor yang relatif meningkat terutama batubara.

Di sisi lain, Andry menyatakan pertumbuhan ekonomi AS yang lebih cepat berpotensi terjadinya perubahan cycle kebijakan moneter dan fiskal secara global.

Pertumbuhan ini menimbulkan kekhawatiran pada pasar keuangan global karena berpotensi terjadi kenaikan inflasi yang cepat di AS meski The Fed memastikan kebijakan moneter yang longgar untuk mengiringi pemulihan ekonomi agar berjalan lancar.

“Tantangannya adalah kalau recovery lebih cepat dan inflasi meningkat maka akan ada perubahan cycle kebijakan moneter yang bisa lebih cepat dari trajectory yang sudah disampaikan The Fed,” jelasnya.

Dia menjelaskan pemulihan ekonomi AS lebih cepat dapat memicu penarikan stimulus moneter yang lebih cepat juga sehingga berdampak negatif pada pasar keuangan global termasuk pasar keuangan domestik.

“The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya di 0,25% sampai 2023. Kalau ekonomi AS pulih lebih cepat apa tidak mungkin itu lebih awal lagi,” tegasnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya