JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 11,0 poin atau 0,17% ke level 6.658,87 pada perdagangan sesi I.
Pada perdagangan sesi I, Jakarta, Rabu (10/11/2021), terdapat 211 emiten menguat, 273 yang melemah, dan 175 lainnya stagnan. Total transaksi mencapai Rp6,3 triliun dari 13,5 miliar lembar saham yang diperdagangkan.
Beberapa indeks juga terpantau bergerak turun seperti indeks LQ45 tertekan (-0,02%) di 952,43, JII (-0,38%) di 566,86, IDX30 naik (0,12%) di 506,08, dan MNC36 (-0,28%) di 321,83.
Indeks sektoral yang anjlok seperti: bahan baku (-0,39%), keuangan (-0,50%), kesehatan (-0,46%), konsumsi non-siklikal (-0,38%), dan properti (-0,08%).
Sedangkan yang menguat yakni, konsumsi siklikal (0,10%), energi (0,54%), industri (1,39%), infrastruktur (0,12%), teknologi (0,73%), dan transportasi (0,25%).
Sementara itu, saham-saham top gainers adalah: PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) naik (24,68%) di Rp96, PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) melesat (24,11%) di Rp175, dan PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) menguat (15,70%) di Rp280.
Adapun saham saham yang masuk top losers antara lain, PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) melemah (-6,80%) di Rp384, PT Arkadia Digital Media turun (-6,38%) di Rp264, dan PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA) merosot (-4,33%) di Rp199.
Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta memaparkan bahwa tekanan IHSG mendapat dorongan dari penutupan Wall Street semalam yang mengalami koreksi.
Namun, turunnya tiga indeks acuan bursa Amerika Serikat tadi malam, menurut Nafan, adalah masih bersifat wajar mengingat kenaikannya yang cukup kuat dalam sesi sebelumnya. Adapun sejumlah sentimen global turut menjadi pemicu.
"Kita akui pergerakan bursa di Amerika ini relatif mengalami koreksi wajar. Karena memang selain dari market menanti perilisan CPI, saya akui ini memberi efek ke market secara global," kata Nafan kepada MNC Portal.
Nafan mencermati bulan November ini investor lebih mencermati optimisme pemulihan ekonomi global, jelang rilis sejumlah data inflasi di Amerika Serikat.
(Dani Jumadil Akhir)