"Tidak ada yang mau bicara dengan saya karena saya anak buta," katanya dikutip BBC Indonesia.
Ketika berusia delapan tahun, ayahnya membawa kabar gembira. Srikanth dapat tempat di sekolah asrama untuk anak-anak tunanetra dan akan dipindahkan ke kota terdekat, Hyderabad - 400 km jauhnya.
Dia belajar berenang, bermain catur, dan bermain kriket dengan bola yang mengeluarkan suara berderak sehingga dia bisa menemukannya. "Kuncinya pada tangan dan telinga," ungkapnya.
Baca Selengkapnya: Kisah Srikanth Bolla, CEO Tunanetra Dulu Diremehkan Kini Punya Perusahaan Hampir Rp1 Triliun
(Dani Jumadil Akhir)