Covid-19 Turun, Maskapai Berlomba-lomba Siapkan Penerbangan Jarak Jauh Nonstop

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 20 Mei 2022 14:50 WIB
Penerbangan (Foto: Okezone/Shutterstock)
Share :

Penumpang penerbangan itu kemudian dinobatkan sebagai kelompok "The Rare and Secret Order of the Double Sunrise", yang dinamakan demikian karena mereka menyaksikan matahari terbit sebanyak dua kali dalam perjalanan.

Tren yang terus berlanjut

Di abad ke-21, tren perjalanan jarak jauh terus berlanjut.

Pada tahun 2004, Singapore Airlines menarik perhatian publik ketika meluncurkan layanan antara New York dan Singapura, dengan jarak tempuh 15.289 km yang dapat - tergantung pada angin - memakan waktu hingga 19 jam.

Sementara, perjalanan Qatar Airways dari Doha ke Auckland, Selandia Baru menempuh 14.484 km.

Penumpang pesawat Boeing 777 ini melintasi 10 zona waktu dan hampir sepanjang Samudra Hindia, benua Australia, hingga Laut Tasman sebelum tiba di kota tujuan. Waktu perjalanan yang ditempuh? 18 jam.

Prestasi penerbangan serupa diharapkan tercapai akhir tahun ini oleh United dan American Airlines ketika meluncurkan layanan antara Amerika Serikat dan India.

Pengalaman terbang jarak jauh memang merupakan pengalaman yang menyenangkan, meski tidak semua aspek perjalanan udara demikian.

Di satu sisi, tidak ada yang menarik dari pengalaman terkurung di dalam satu tempat untuk jangka waktu yang berkepanjangan. Melakukan hal itu untuk mungkin akan membuat Anda menjadi mudah kesal.

Saat penumpang kesal, pengalaman terbang menjadi kurang menyenangkan; dan jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan, mengapa melakukannya?

Para pelancong awal mungkin lebih beruntung. Tarif tinggi membatasi siapa yang bisa terbang, sehingga akibatnya hanya beberapa orang saja bisa menikmati layanan mewah itu selama berjam-jam

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya