JAKARTA - PT Harum Energy Tbk (HRUM) meraih fasilitas kredit revolving dengan jumlah komitmen keseluruhan sebesar USD390 juta atau setara Rp5,9 triliun dengan jatuh tempo pada 31 Desember 2025. (Kurs: Rp15.379/USD)
Dikutip Harian Neraca, di mana fasilitas pinjaman tersebut akan digunakan sebagai belanja modal, modal kerja, kebutuhan korporasi dan investasi secara umum sebagai upaya pengembangan bisnis perseoran.
Kemudian untuk meraih pertumbuhan usaha yang berkelanjutan, salah satu upaya utama perseroan adalah mendiversifikasi usahanya melalui ekspansi ke usaha pertambangan dan pengolahan nikel, yang mana memerlukan pembiayaan yang cukup besar.
BACA JUGA:Jasa Marga Resmi Jual 40% Saham Jalan Tol Layang MBZ ke Salim Group
Adapun selaku pemberi pinjaman, yaitu; United Overseas Bank Limited, PT Bank UOB Indonesia, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank DBS Indonesia, DBS Bank Ltd., PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank BTPN Tbk, dan PT Bank QNB Indonesia Tbk.
Diketahuim di semester pertama 2022, HRUM kantongi laba bersih sebesar USD145,98 juta atau melonjak 1350% dibandingkan periode sama tahun 2021 yang tercatat senilai USD10,356 juta. Hasil itu melambungkan laba per saham dasar ke level USD0,01134, sedangkan di akhir Juni 2021 berada di level USD0,00082. Sementara pendapatan naik 227,82% menjadi USD377,45 juta yang ditopang peningkatan ekspor batu bara sebesar 196,2% menjadi USD320 juta.
Perseroan juga mulai mencatatkan penjualan batu bara ke dalam negeri senilai USD51,036 juta, pendapatan ini di semester I 2021 tercatat nihil.
Walau beban pokok pendapatan dan beban langsung membengkak 120% menjadi USD132,97 juta, tapi laba kotor tetap melonjak 343% menjadi USD244,48 juta.
Hasil laba bersih itu menambah saldo belum ditentukan penggunaanya sebesar 42,1% menjadi USD445,53 juta. Pada gilirannya, aset ikut naik 23,3% dibanding akhir tahun 2021 menjadi USD1,078 miliar.
Di semester kedua 2022, perseroan akan menggenjot serapan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk mengejar target kenaikan produksi yang ditetapkan.
(Zuhirna Wulan Dilla)