Pertumbuhan ini mampu diraih perseroan di tengah kenaikan harga bahan baku terutama tepung terigu yang sebelumnya menekan margin laba kotor dari ROTI.
“Namun demikian secara konsisten perusahaan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, total aset produsen Sari Roti ini hingga akhir Desember 2021 sebesar Rp 4,13 triliun yang terdiri atas aset lancar Rp 1,28 triliun dan aset tidak lancar Rp 2,84 triliun. Sedangkan pos liabilitas berjumlah Rp 1,44 triliun. Sebelumnya perseroan menyampaikan optimism penjualan di 2022 bakal tumbuh 15% seiring dengan pencapaian positif di semester pertama 2022.
Di mana untuk menjaga kinerja positif tersebut, perseroan telah menyiapkan berbagai strategi utama yakni, memperkuat penjualan kanal tradisional dengan berfokus pada area perumahan dan pemukiman. Perseroan juga akan mempererat kerja sama dengan distributor dan agen.
Selain pada kanal tradisional, ROTI juga akan memperkuat penjualan di kanal modern dengan menyesuaikan dinamika perilaku belanja konsumen, juga meningkatkan strategi promosi.
Upaya yang juga dilakukan perseroan yakni, dengan meningkatkan ketersediaan serta sebaran produk, utamanya pada kategori produk Sari Kue. Tim riset RHB Sekuritas menyebutkan, bertumbuhnya bisnis perseroan juga didukung oleh pabrik roti di Banjarmasin yang mulai beroperasi penuh pada akhir 2021.
Diharapkan distribusi produk yang lebih besar dapat terus mendukung pertumbuhan anorganik perseroan ke pasar baru. Perseroan juga melanjutkan ekspansi di Kalimantan dan Sumatera serta penyelesaian pabrik Pekanbaru pada akhir 2022.
Secara total, Nippon Indosari memiliki 15 pabrik (termasuk Pekanbaru), sehingga total kapasitas tahunan perseroan mencapai 5,7 juta unit. Manajemen Nippon Indosari meyakini hal tersebut akan cukup untuk mendukung pertumbuhan penjualan hingga 2025.
(Taufik Fajar)