JAKARTA - Menguak alasan mengapa keraton Surakarta pindah pada tahun 1744 yang wajib diketahui.
Keraton Surakarta yang merupakan istana resmi kesunanan masih terlihat sangat eksis terletak di Kota Solo, Jawa Tengah.
BACA JUGA:
Di mana keraton ini didirikan kembali pada tahun 1744 oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II.
Sebelumnya keraton ini telah didirkan pada tahun 1742.
Dilansir Okezone melalui Wikipedia, Rabu (10/5/2023) keraton ini memiliki total luas wilayah keseluruhan keraton surakarta mencapai 147 hektare.
BACA JUGA:
Luas tersebut mencakup seluruh area di dalam benteng Baluwarti, Alun-Alun Lor, Alun-Alun Kidul, Gapura Gladag, dan kompleks Masjid Agung Surakarta. Untuk inti keraton luasnya mencapai 15 hektar.
Lantas, mengapa keraton Surakarta pindah saat 1744? Berikut penjelasannya.
Alasannya adalah sebenarnya Keraton Surakarta yang didirikan oleh Susuhan Paku Buwono II ini dibangun untuk menggantikan Keraton Kartasura.
Kartasura mengalami porak-poranda akibat upaya perlawanan terhadap Keraton Kartasura yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning yang dikenal perang Geger Pecinan dan terjadi tahun 1743.
Sekembalinya Paku Buwono II dari pengungsian di Ponorogo, Jawa Timur, dirinya berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari para pemberontak.
Pada saat itu Keraton sudah tampak dalam keadaan rusak dan dianggap tidak cocok lagi untuk dijadikan Keraton lagi.
Maka dari sinilah memilih tempat baru tempat di desa Sala, pada 1744, Paku Puwono II membangun pusat pemerintahan baru di Desa Sala (Solo) hanya berjarak 14 km sebelah timur dari Keraton Kartasura.
Pada masa itu, Paku Buwono II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala. Daerah ini kemudian dikenal juga dengan nama Surakarta.
(Zuhirna Wulan Dilla)