Kartasura mengalami porak-poranda akibat upaya perlawanan terhadap Keraton Kartasura yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning yang dikenal perang Geger Pecinan dan terjadi tahun 1743.
Sekembalinya Paku Buwono II dari pengungsian di Ponorogo, Jawa Timur, dirinya berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari para pemberontak.
Pada saat itu Keraton sudah tampak dalam keadaan rusak dan dianggap tidak cocok lagi untuk dijadikan Keraton lagi.
Maka dari sinilah memilih tempat baru tempat di desa Sala, pada 1744, Paku Puwono II membangun pusat pemerintahan baru di Desa Sala (Solo) hanya berjarak 14 km sebelah timur dari Keraton Kartasura.
Pada masa itu, Paku Buwono II membeli tanah seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada akuwu (lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala. Daerah ini kemudian dikenal juga dengan nama Surakarta.
(Zuhirna Wulan Dilla)