"Pola BLT maupun bantuan pangan akan menimbulkan persepsi pemerintah menjadi sinterklas untuk mendukung salah satu calon," kata Bhima.
Selain itu Politisasi bansos yang marak juga menimbulkan kekhawatiran data penerima tidak tepat sasaran, bahkan rawan korupsi.
2. Pola Perlinsos Sama dengan 2014 dan 2019
Menurut Bhima, pola Program Perlindungan Sosial (Perlinsos) hampir sama dengan siklus tahun 2014 dan 2019. Dimana anggaran perlindungan sosial saat itu naik tajam.
"Pola Perlinsosnya hampir sama dengan siklus 2014 dan 2019 dimana anggaran perlindungan sosial saat itu naik tajam," ungkapnya.
3. Efektivitas Bansos Dipertanyakan
Efektivitas bansos dipertanyakan sebab tidak mampu mengurangi angka kemiskinan secara signifikan.
Seperti di tahun 2014 lalu, anggaran Perlinsos sampai Rp484,1 triliun, namun di tahun 2015 dipangkas hingga menjadi Rp276,2 triliun.
4. Naik Tinggi Sekali di Pemilu
Menurut Bhima hal tersebut anomali sekali, setelah naik tinggi saat pemilu, tahun berikutnya turun anjlok.
"Tahun 2014 anggaran Perlinsosnya Rp484,1 triliun kemudian dipangkas tahun 2015 jadi Rp276,2 triliun. Itu anomali sekali setelah naik tinggi saat pemilu tahun berikutnya anjlok," ungkap Bhima.
5. Penyelamatan Daya Beli dari Fluktuasi sebagai Alasan
Pemerintah memberikan alasan sebagai bentuk penyelamatan daya beli dari fluktuasi harga pangan.
Padahal, menurut Bhima, hal tersebut cukup aneh, di saat impor pangan sedang naik secara besar-besaran, terutama impor beras. Saling kontradiksi antara bansos dengan impor.
Impor beras dapat diturunkan harga pangan sehingga tidak perlu memberikan bansos secara besar-besaran.
6. Kendalikan Inflasi
Dapat simpulkan, kebajikan pangan beberapa bulan terakhir bisa dibilang belum mampu kendalikan inflasi pangan.
"Harusnya kan impor bisa turunkan harga pangan jadi tidak perlu kasih bansos besar-besaran. Jadi kebijakan pangan beberapa bulan terakhir bisa dibilang belum mampu kendalikan inflasi pangan," katanya.
7. Terjadinya Distorsi Akibat Menggeser Anggaran untuk Bansos
Menggeser anggaran untuk bansos jelang pemilu akan timbul distorsi pada efektivitas program lainnya. Apalagi kalau anggaran yang digeser adalah anggaran belanja produktif.
"Menggeser anggaran untuk bansos jelas pemilu akan timbul distorsi pada efektivitas program lainnya. Apalagi kalau anggaran yang digeser adalah anggaran belanja produktif," jelasnya.
(Taufik Fajar)